Pertunjukan budaya ditampilkan melalui dua media, panggung dan videotron. Teater diawali dengan pertunjukkan wayang oleh Dalang dan kehancuran ‘rumah’ di atas panggung dengan asap buatan.
Adegan-adegan selanjutnya menceritakan perjalanan Insan mencari ‘rumah’ baru, bergantian antara media videotron dan panggung, didukung oleh tarian dan paduan suara.
Sebagaimana pertunjukkan diawali oleh Dalang, akhir cerita juga ditutup oleh Dalang, kemudian penampilan lagu daerah Indonesia, lagu pop Turki, diikuti dengan flashmob penampil dan penonton yang naik ke panggung.
Pertunjukan tersebut berlangsung lancar dan sukses menghibur penonton. Seperti kata salah satu penonton, Sapargul Choiubekova, mahasiswi asal Kyrgyzstan yang sedang menempuh pendidikan di Bursa.
"Saya selalu hadir di acara Endonezya İle Bir Gun, tapi yang ketiga ini adalah yang terbaik dan saya benar-benar menikmati acara ini," ungkap Sapargul Choiubekova.
Sementara Ketua PPI Ankara, Naura Arifa, menegaskan kembali bahwa EIBG 3 bukan hanya sekadar acara kebudayaan biasa,melainkan juga mengandung pesan tentang lingkungan.
"Tidak ada rumah untuk manusia selain bumi. Maka dari itu kita harus menjaga bumi," ujar Naura.
(ltb)