Namun, dalam beberapa sumber lain menceritakan kisah Aurangzeb dan Hirabai secara yang berbeda. Dalam Ahkan e AUrangzeb yang ditulis pada 1640 oleh penulis biografi Aurangzeb, Hamiduddin Khan Minchah menceritakan bahwa pertemuan itu terjadi saat sang raja memasuki harem tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dia jatuh pingsan dan saat ditanya oleh sang bibi untuk menjelaskan sebab penyakitnya dan meminta obatnya, dia diberi Hirabai sebagai salah satu selirnya.
Dalam Ma’asir al Umara dikatakan bahwa perselingkuhan Aurangzeb terdengar sampai ke telinga ayahnya, Shah Jahan. Dara Shikoh yang tidak kehilangan cinta untuk saudaranya Aurangzeb berkomentar kepada ayah mereka Shah Jahan, “Lihatlah kesalehan dan pantangan dari penjahat munafik ini! Dia telah pergi ke seekor anjing yang mana seorang gadis rumah tangga bibinya.”
Namun, sayangnya Hirabai meninggal dan dimakamkan di Aurangabad. Kepergiannya membuat Aurangzeb sangat kecewa hingga dia meninggalkan istana untuk berburu. Namun, keputusannya itu membuatnya ditegur oleh penyair Mir Askari (Aqil Khan) lantaran mempertaruhkan nyawanya dalam keadaan gelisah. Aurangazeb akhirnya menjawab:
“Ratapan di dalam rumah tidak bisa melegakan hati, Dalam kesendirian saja kamu bisa menangis sepuasnya.”
Mendengar ini, Aqil Khan membaca bait lain, “Betapa mudahnya cinta muncul, tapi sayangnya betapa sulitnya itu! Betapa sulitnya perpisahan, tetapi apa yang diberikannya kepada yang dicintai!,” Aurangzeb tidak bisa menahan air matanya. Dia menghafalkan syair-syair itu setelah dengan sia-sia mencoba mempelajari nama penyair yang sederhana itu.