Share

Cerita Jeje Slebew Alami Kasus Kekerasan

Wiwie Heriyani, MNC Portal · Kamis 29 September 2022 22:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 33 2677735 cerita-jeje-slebew-alami-kasus-kekerasan-eifONm0XSP.jpg Jeje Slebew (Foto: IG Jeje)

JAKARTA - Jeje Slebew mengaku turut prihatin dengan kasus KDRT yang dialami oleh Lesti Kejora. Meski mengaku belum pernah bertemu secara langsung, Jeje menyebut, bahwa kasus kekerasan yang dialami Lesti juga pernah dialaminya.

Meski begitu, pemilik nama asli Jasmine Laticia ini tak memungkiri, kasus kekerasan dalam rumah tangga merupakan kasus yang penyelesaiannya cukup ‘tricky’.

Menurut Jeje, kasus kekerasan dalam rumah tangga tak melulu harus berakhir dalam perceraian. Apalagi jika pasangan suami istri tersebut telah memiliki anak. Dia menilai, selama kasus tersebut tidak kembali berulang, seorang pelaku kekerasan berhak mendapat kesempatan.

Jeje Slebew

“Jangan sampai terjadi sama aku, cuma karena aku pernah ngerasain kekerasan verbal dan fisik. Aku juga seorang manusia punya hati nurani, sebenarnya buat kesalah itu memang hal yang wajar, tapi dia mau balikan, rujuk, dan lain-lain, silahkan deh baikan lagi, rujuk lagi, bisa diomongin lagi lah, selagi masih bisa diomongin ya kita omongin,” ujar Jeje, saat ditemui di Gandaria City Mall, Jakarta Selatan, Kamis, (29/9/2022).

“Cuma kalau nggak bisa diomongin, nggak bisa diperbaiki, berarti ya emang dia bukan jodoh lu, udah ketebak disitu, dan itu jawabannya,” imbuhnya.

Gadis berusia 16 tahun ini juga menyebut, bahwa pada dasarnya, seorang perempuan memiliki jiwa pemaaf. Terlebih, terhadap orang yang telah dicintainya.

Meskipun memaafkan seorang pelaku kekerasan terdengar konyol, Jeje menilai, banyak pertimbangan dan alasan perempuan mengapa pada akhirnya memberi maaf dan kesempatan untuk pelaku kekerasan, khususnya sang suami.

“Sekali dua kali itu bisa dimaafkan, even itu kekerasan. Kalau seorang perempuan itu kalau udah sayang, itu mau diapain juga. Aku juga pernah ngerasain juga soalnya kak, even itu dipukul atau apa, tapi kalau memang dia ngerasa oh ini orang bisa berubah, kalau kita dibilang bego ya bego, tapi kita dengan mindset kita yang udah ngerasain, karena kita ngelihat effort dia yang dulu,” tuturnya.

“Cuma kalau misal dia nggak ada perubahan, sudah rujuk tapi dia ngulangin lagi, berarti dia bukan jodoh lu dan kita pun sebagai perempuan akan muak,” lanjutnya.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia bersama Astra

Meski begitu, Jeje kembali menegaskan, bahwa sifat pemaaf seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan kadang kerap disepelekan. Hingga akhirnya, tak memungkiri mereka kerap berkali-kali mengalami kasus kekerasan.

Hal inilah yang dinilainya perlu menjadi pertimbangan bagi para perempuan untuk bisa tegas dan ‘give up’ terhadap pasangan yang melakukan kekerasan.

“Ada kalanya seorang laki-laki itu rujuk ya sama istrinya, dalam artian ya mau baikan. Cuma seorang perempuan itu gampang ragu, sekalinya mereka merasa disakiti, merasa dikecewakan, itu kalau dia memang mau beneran minta maaf secara tulus, kadang kita sendiri dari seorang perempuan tuh udah ngerasa ketutup hatinya,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini