Basic Instinct, Film Thriller Erotis Terbesar Era 1990-an

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 11 Juni 2021 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 11 206 2423805 basic-instinct-film-thriller-erotis-terbesar-era-1990-an-nD2udCw1RX.jpg Sharon Stone (Foto: Film Basic Instinct)

JAKARTA - Basic Instinct menjadi salah satu film terbesar pada dekade 1990-an, (di atas Golden Eye dan Beauty and the Beast). Padahal ulasannya biasa-biasa saja. "Banyak omong dan lambat", kata Stephen Hunter di Baltimore Sun.

Bintang di film itu, Michael Douglas, telah memainkan peran serupa sebelumnya, dan inti pembicaraan utamanya adalah selangkangan lawan mainnya yang muncul dalam sekedipan mata.

Hari ini popularitas Basic Instinct masih sama seperti dulu, baik atas alasan positif maupun negatif.

Baca Juga:

Temani Anak Olahraga, Tato di Dada Kiri Celine Evangelista Curi Perhatian

Rizky Billar Kebut Jadwal Syuting Jelang Lamaran

Basic Instinct


Restorasi Basic Instinct dalam resolusi 4.000 piksel yang mewah dirilis, tapi salah satu pemeran utama film itu, Sharon Stone, berulang kali melontarkan kritik.

Stone merasa dieksploitasi akibat potongan adegan terkenal dalam film itu. Dia tidak senang dengan rilisan ulang tersebut.

Stone menyebut rilisan baru ini sebagai "potongan XXX sutradara", meskipun Studio Canal mengatakan pada BBC Culture bahwa film yang direstorasi sebenarnya adalah film yang dirilis di Eropa pada tahun 1992, dan tidak mengandung materi baru yang belum pernah ada di edisi DVD sebelumnya.

Namun para pembela dan pencelanya bisa sepakat bahwa Basic Instinct berbeda dari semua film thriller erotis lainnya di tahun 1990-an.

Meskipun film Unlawful Entry dan Single White Female pernah jadi pembicaraan, tapi kedua film itu tidak diterbitkan ulang. Para pemeran utama film itu juga tidak menjadi berita utama ketika mereka menceritakan yang terjadi di balik layar.

Matthew Turner, kritikus, penulis, dan pembawa acara Fatal Attractions, podcast yang didedikasikan untuk thriller erotis, menilai Basic Instinct sebagai yang terbaik dan terpenting dari 76 film yang telah diliputnya sejauh ini.

"Ini adalah sine qua non dari genre ini," katanya kepada BBC Culture. "Tanpa Basic Instinct, tidak mungkin thriller erotis akan sebesar itu tahun 1990-an dan tidak mungkin kita membicarakannya sekarang."

Plot tidak masuk akal Basic Instinct mencakup latar cerita berlebihan untuk Sharon Stone dan Michael Douglas.

Sensasi kemunculan pertama genre ini bisa dirasakan pada dekade 1980-an ketika seks dan kekerasan bersatu di layar dalam berbagai komposisi.

Penonton yang menginginkan plot misteri erotis yang sesuai standar sosial mereka dapat menonton film Body Double, Sea of Love, Fatal Attraction (dibintangi bersama Douglas), atau kisah panas lainnya tentang penguntit, pemeras, dan pembunuh dengan rambut indah.

Baca Juga:

Penasaran, Mama Rieta Amalia Pesan BTS Meal Tanpa Antre

Ratu Rizky Nabila Tagih Biaya Bersalin Senilai Rp90 Juta pada Alfath Fathier

Basic Instinct

Pada dasarnya, ini adalah kemunduran film noir dengan kemungkinan menarik bahwa para aktor mungkin melepas pakaian mereka. Tapi mereka belum dikenal sebagai thriller erotis. Basic Instinct-lah yang mendefinisikan dan mempopulerkan genre ini.

Di sisi lain, bisa dikatakan bahwa Basic Instinct juga membantu membunuh genre tersebut. Film itu mengambil semua aspek film thriller erotis dan membawanya ke titik ekstrem yang keterlaluan sehingga tidak ada lagi tempat tersisa untuk film serupa.

Salah satu yang bertanggung jawab adalah Joe Eszterhas, yang telah menulis sebuah film thriller proto-erotis, Jagged Edge (1985). Eszterhas adalah mantan jurnalis macho yang suka bicara keras, satu-satunya penulis skenario yang paling mendekati popularitas bintang rock.

Skenarionya dijual dengan harga yang memecahkan rekor dan seperti yang dia banggakan dalam memoarnya, Hollywood Animal tahun 2004, dia adalah satu-satunya penulis skenario dalam sejarah Hollywood yang memiliki banyak penggemar perempuan.

Rasanya hampir tidak bisa dipahami hari ini, ketika sebagian besar film sukses didasarkan pada buku, komik, dan acara TV, tetapi Eszterhas dibayar mahal untuk garis besar cerita yang paling minim.

Suatu hari, tulisnya dalam Hollywood Animal, dia "berpikir akan menyenangkan untuk membuat film tentang seorang pria yang dimanipulasi oleh perempuan brilian, omniseksual, dan jahat".

Dan skenario yang dia buat dalam 13 hari itu dibeli pada 1990 oleh Carolco, sebuah studio independen, seharga US$4 juta (Rp56 miliar).

Awalnya dia memberi judul skenario itu Love Hurts, tetapi sebelum mengirimkannya ke agen, dia mengubah judulnya menjadi sesuatu yang lebih menarik: Basic Instinct.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini