Film Asia Bergerak Menggeser Dominasi Hollywood

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Kamis 12 November 2020 07:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 12 206 2308260 film-asia-bergerak-menggeser-dominasi-hollywood-AJppVVstvT.jpg Crazy Rich Asians (Foto: Film Crazy Rich Asians)

JAKARTA - Film Crazy Rich Asians, yang diadaptasi dari novel karya Kevin Kwan, menjadi film blockbuster Amerika pertama yang semua tokohnya diperankan orang-orang Asia. Film tersebut bahkan menghasilkan pundi-pundi kurang lebih Rp3,7 triliun.

Tak lama setelah Crazy Rich Asians ditayangkan, masyarakat dunia dikejutkan dengan kemenangan film Korea Selatan, Parasite, pada ajang Piala Oscar awal tahun ini. Ini menjadi pertama kalinya film Asia menang dalam ajang penghargaan bergengsi di dunia tersebut.

Kesuksesan Parasite di dunia juga mengerek pamor dua film pendek garapan sutradara Bong Joon-ho yang membuatnya terkenal di Korsel, yakni Incoherence yang dirilis 1994 dan Influenza terbitan 2004. Kedua film tersebut menerima sambutan hangat di Festival Film Korea.

Baca Juga:

Suami Zaskia Gotik Unggah Foto sang Putri, Netizen: Bayi Prematur yang GemukĀ 

Unggah Foto Prosesi Melukat, Netizen Sebut Jessica Iskandar Pindah Agama

Crazy Rich Asians

Lantas apakah kekuatan film akhirnya bergeser ke Timur?

Melansir BBC, Kamis (12/11/2020) Direktur Bidang Artistik para Festival Film Internasional Makau, Mike Goodridge mengatakan China resmi menjadi pasar film terbesar di dunia.

"Ada 1,3 miliar orang di sana dan jumlah tersebut jauh di atas pasar AS. Anda bisa menantikan film hits berskala raksasa keluar dari Chinafilm-film yang hampir mendulang USD1 miliar di China saja," tuturnya.

Tak hanya sampai disitu, Goodridge menambahkan dominasi film Asia pun kini dapat terlihat di platform streaming. Ketika mereka mencari pelanggan di sebuah negara, mereka juga harus membuat film lokal.

"Film-film Marvel tidak bisa begitu saja dilempar ke penonton. Harus ada film buatan lokal dan TV. Mereka menginginkan kisah mereka sendiri. Sehingga perusahaan-perusahaan AS ini menaruh uang pada pembuatan konten di seluruh Asia, termasuk mendirikan pusat di Singapura," papar Goodridge.

Goodridge memprediksi peluang kemunculan film hit dari Asia tergolong tinggi.

"Pergeseran ini bertepatan dengan pandemi. Kita tidak lagi melihat banyak film Hollywood karena film-film itu ditunda, sehingga para penonton di rumah banyak berfokus pada TV atau film berbahasa asing yang menarik dan tidak pernah ditonton sebelumnya. Kita menjadi lebih terbuka pada teks terjemahan," jelasnya.

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini