4 Komikus Legendaris Indonesia, Penguasa Pasar Komik Tanah Air

Doddy Handoko , Jurnalis · Minggu 16 Mei 2021 10:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 16 33 2410734 4-komikus-legendaris-indonesia-penguasa-pasar-komik-tanah-air-9DGTsIS4Nw.jpg Film Gundala, salah satu komik karya Hasmi yang diadaptasi ke layar lebar. (Foto: Legacy Pictures)

JAKARTA - Periode ‘60 hingga ‘90-an, komik bergambar karya komikus Tanah Air menguasai pasar. Itu adalah era keemasan komik nasional yang diisi berbagai genre, mulai dari pewayangan, romansa, silat, bahkan komedi. 

Sepanjang periode itu, muncullah nama-nama komikus besar, seperti Kosasih, Hasmi, Ganes TH, hingga Hans Jaladara. Mereka adalah sosok di balik sederet judul komik populer, sebut saja Si Buta dari Gua Hantu hingga Pandji Tengkorak

KOSASIH

Dikenal sebagai ‘Bapak Komik Indonesia’, Kosasih lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 1919. Dia tumbuh di keluarga ningrat yang membuatnya mendapat kesempatan menempuh pendidikan di Holland Indische School. 

Semasa sekolah, Kosasih memang dikenal gemar membaca literatur fiksi dan Tarzan merupakan kisah favoritnya. Hobi itulah yang kemudian membawanya menggeluti dunia ilustrasi dan menjadi seorang komikus. 

Komik Sri Asih karya Kosasih.

Saat bekerja di Harian Pedoman dan penerbit Melodi di Bandung, dia menerbitkan komik perdananya. Komik Sri Asih yang dirilis pada 1954 itu menjadi pelopor komik bertema cerita wayang di Indonesia. 

Dia juga mengadaptasi kisah Ramayana dan Mahabharata, yang sempat diterbitkan ulang oleh PT Elex Media Komputindo pada era ‘90-an. Kosasih pensiun menjadi komikus pada usia 74 tahun dan mengembuskan napas terakhirnya pada 2012, di usia 93 tahun.

Baca juga: Dari Komik, Sinetron hingga Film, Si Buta dari Gua Hantu Laris Manis di Pasaran 

GANES TH

Jika Kosasih dikenal lewat karya wayang, pamor Ganes TH justru melambung melalui komik silatnya. Komik pertama yang dirilisnya dan menjadi fenomenal di Indonesia adalah Si Buta dari Gua Hantu.

Popularitas karyanya tersebut bahkan membuat kisah komik tersebut diadaptasi ke layar lebar pada 1970. Dia juga adalah sosok di balik komik silat lainnya, seperti KalijodoDjampang Jago Betawi, hingga Serial Reo Manusia Serigala.

Ganes TH Si Buta dari Gua Hantu.

Sebelum dikenal sebagai komikus, Ganes TH sempat berhenti kuliah karena kondisi finansial yang tidak memungkinkan. Demi bisa bertahan hidup, dia bahkan sempat melakoni pekerjaan remeh seperti menggambar tirai warung makan kaki lima.

Namun, jalan hidupnya berubah ketika seorang pelukis keturunan China, Lee Man Fong menjadikannya asisten. Saat itulah dia berkesempatan mempelajari teknik melukis.

Setelah rekam jejak selama 2 dekade, komikus bernama lengkap Ganes Thiar Santosa tersebut meninggal dunia di usia 60 tahun, pada 10 Desember 1995.

HANS JALADARA

Popularitas Si Buta dari Gua Hantu pada era ‘60-an hanya mampu ditandingi Pandji Tengkorak, komik karya Hans Jaladara. Untuk menghidupkan adegan laga dalam karyanya, komikus asal Kebumen, Jawa Tengah tersebut sampai mempelajari kungfu dan judo.

Pandji Tengkorak, komik karya Hans Jaladara

Penggambaran karakter dan jalan cerita Pandji Tengkorak yang penuh liku membuat sineas film nasional mengangkat ceritanya ke layar lebar pada 1971. Hans sempat merilis versi terbaru Pandji Tengkorak pada 1984 dan 1996. 

Namun karena popularitas komik Indonesia kian merosot pada akhir ‘80-an, Hans memilih fokus melukis. Kala itu, banyak penggemar yang merasa kecewa dan menyayangkan keputusan sang komikus. Namun Hans Jaladara mengaku, masih optimistis komik lokal akan kembali berjaya suatu hari nanti.

HASMI

Selain tiga nama di atas, Indonesia masih memiliki satu komikus besar lainnya. Dia adalah Harya Suraminata alias Hasmi yang populer lewat komik Gundala Putera Petir. Dia menggambarkan Gundala sebagai pahlawan super yang membasmi kejahatan. 

Gundala.

Sepanjang kariernya, dia merilis 23 judul buku seri Gundala yang diterbitkan sepanjang 1969 hingga 1982. Dia menciptakan karakter Gundala, setelah lebih dahulu merilis Maza pada 1968. 

Petualangan Gundala berakhir pada buku terakhir berjudul, Surat dari Akherat, yang dipublikasikan pada 1982. Komik ini sempat muncul kembali di Jawa Pos pada 1988. Sayang eksistensi komik itu tak bertahan lama.*

Baca juga: Untuk Kedua Kali, BLACKPINK Tampil sebagai Sampul Majalah VOGUE

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini