Apa Itu Roasting? Berkaca dari Kasus Ruben Onsu dan Sule

Siska Maria Eviline, Jurnalis · Jum'at 09 April 2021 09:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 33 2391795 mengenal-roasting-dari-kasus-ruben-onsu-dan-sule-xdPlmaJ2EW.jpg Sule. (Foto: YouTube/Sule Channel)

JAKARTA - Awal Februari 2021, presenter Ruben Onsu meluapkan kemarahannya di media sosial usai komika Ridwan Remin menjadikan anak dan istrinya sebagai materi lawakan. 

Kemudian, akhir Maret 2021, komika Kiky Saputri membocorkan ada artis yang ogah dijadikan materi lawakan. Dari video itu, diketahui bahwa Sule merupakan artis yang dimaksud sang komika. 

Ruben Onsu. (Foto: Instagram/@ruben_onsu)

Dalam penjelasannya kepada Denny Sumargo, Sule mengaku, punya alasan menolak diroasting Kiky kala itu. Dia khawatir akan kembali bersikap tak semestinya, berkaca dari kejadian serupa pada 2018. Kala itu, dia mengkritik Shandy Aulia yang mengulik kehidupan pernikahannya. 

Berkaca dari dua kasus di atas, apa sebenarnya roasting dan bagaimana seharusnya penggunaannya? Mengutip BBC, ‘tradisi’ meroasting dalam dunia komedi Amerika Serikat bermula pada era ‘50-an. Kala itu, komedi menjadi sarana untuk mengkritik kebijakan pemerintah. 

Pada 2003, tradisi itu bahkan dibawa ke dunia televisi lewat program Comedy Central Roast. Beberapa nama besar, seperti Justin Bieber, David Hasselhoff, Pamela Anderson, hingga Donald Trump bahkan pernah tampil dalam program tersebut.

Baca juga: Ruben Onsu Murka pada Ridwan Remin Gara-Gara Roasting 

Aturan Meroasting

Tentu, ada ‘aturan’ dalam roasting sehingga tak didefinisikan sebagai bullying. Dalam dunia televisi, umumnya roasting dilakukan setelah melalui kesepakatan bersama di belakang layar. 

Sule dan Denny Sumargo.

Artinya, tokoh yang diroasting akan memberikan batasan hal apa saja yang boleh dijadikan bahan lawakan oleh sang komika. Batasan ini bisa berupa masalah pribadi, bentuk fisik, bahkan kondisi kehidupan sang tokoh. 

Karena itu, sangat diperlukan agar materi roasting tidak mengandung isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Materi lawakan juga seharusnya mempertimbangkan latar belakang, perasaan, dan kondisi subjek yang diroasting.*

Baca juga: Tampil di The Voice Kids Indonesia, Arsy Sempat Protes pada Ashanty

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini