Nasib Penyanyi Cover dan Live Music Setelah PP Royalti Disahkan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 09 April 2021 14:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 205 2391996 nasib-penyanyi-cover-dan-live-music-setelah-pp-royalti-disahkan-MurfQi1VqO.jpg Ilustrasi Musik (Foto: Bogomil Mihaylov/Unsplash)

JAKARTA - Lahirnya PP Nomor 56 Tahun 2021 sejatinya memberikan perlindungan pada karya lagu dan/atau musik. Tidak hanya itu, aturan tersebut memungkinkan penyanyi, pencipta lagu, dan pemegang hak cipta lagu dan/atau musik mendapatkan hak royalti dengan adil yang selama ini diperjuangkan.

Ya, banyak keluhan yang disampaikan pemilik lagu, pencipta lagu, atau pemegang hak cipta lagu dan/atau musik terkait dengan royalti. Bahkan, banyak yang mengaku tidak mendapatkan hak yang wajar dari kepopuleran musiknya.

Baca Juga:

Polemik PP Hak Cipta Lagu, Pengamen Wajib Bayar Royalti?

Disinggung soal Malam Pertama dengan Aurel, Atta Halilintar: Sedap

Namun, lahirnya PP royalti ini pun membuat sebagian pihak bingung, termasuk soal nasib penyanyi cover atau live music di kafe atau area publik lainnya. Apakah mereka juga perlu membayar royalti?

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, Freddy Harris, mengungkapkan bahwa jika mengacu pada aturan yang ada di PP, ya, mereka harus bayar royalti.

"Alasannya, karena mereka mendapatkan keuntungan dari membawakan lagu orang. Mungkin ada yang lewat platform digital atau tampil langsung di depan publik," katanya dalam konfrensi pers virtual, Jumat (9/4/2021).

Lebih jelasnya, di PP Nomor 56 Tahun 2021 tersebut diterangkan bahwa sesiapa yang wajib membayar royalti.

"Pihak yang wajib membayar royalti adalah perseorangan atau badan hukum yang melakukan penggunaan lagu dan/atau musik dalam bentuk layanan publik bersifat komersial yang meliputi:

 

(a) Seminar dan konferensi komersial;

(b) Restoran, kafe, pub, bar, bistro, kelab malam, dan diskotek;

(c) Konser musik;

(d) Pesawat udara, bus, kereta api, dan kapal laut;

(e) Pameran dan bazar;

(f) Bioskop;

(g) Nada tunggu telepon;

(h) Bank dan kantor;

(i) Pertokoan;

(j) Pusat rekreasi;

(k) Lembaga penyiaran televisi;

(l) Lembaga penyiaran radio;

(m) Hotel, kamar hotel, dan fasilitas hotel; dan

(n) Usaha karaoke."

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini