Menengok Kembali Perseteruan Ustadz Maaher dengan Nikita Mirzani sebelum Ditangkap

Lintang Tribuana, Jurnalis · Kamis 03 Desember 2020 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 03 33 2320947 menengok-kembali-perseteruan-ustadz-maaher-dengan-nikita-mirzani-sebelum-ditangkap-poDg3RyDss.jpg Nikita Mirzani (Foto: Instagram/@nikitamirzanimawardi_17)

JAKARTA - Nama Ustadz Maaher At-Thuwailbi alias Soni Ernata menjadi sorotan, terutama di industri hiburan, sejak berseteru dengan Nikita Mirzani. Bermula ketika sang aktris menanggapi kepulangan Habib Rizieq Shihab dari Arab Saudi ke Jakarta pada 10 November 2020.

Baca Juga:

- Ustadz Maaher Ditangkap, Nikita Mirzani: Bravo Polisi

- Putri Shandy Aulia Sudah Bisa Berenang, Netizen Ramai

Lewat live Instagram, Nikita menyebut Habib adalah tukang obat. Dari sana, ia dinilai menghina Habib Rizieq. Ucapan itu membuat Maaher meradang hingga mengancam mengepung rumah Nikita dengan menyertakan 800 pembela ulama.

Meski sudah diancam, Nikita enggan meminta maaf pada Habib Rizieq karena tak merasa salah. Nikita dan Maaher pun terus berperang melontarkan sindiran pedas di media sosial.

Konflik semakin memanas ketika kubu Ustadz Maaher, yakni Forum Masyarakat Pencinta Ulama (FMPU) sempat melaporkan Nikita Mirzani pada 16 November 2020 atas dugaan ujaran kebencian terhadap Rizieq. Namun, laporan itu ditolak karena kurang bukti.

Perseteruan itu juga berimbas pada Maaher yang dilaporkan atas dugaan menghina Habib Luthfi bin Yahya melalui postingannya di media sosial. Ia dilaporkan oleh Muannas Alaidid, kuasa hukum Habib Luthfi bin Yahya pada 16 November.

Kini, Maaher benar-benar terjatuh dalam masalah hukum setelah ditangkap oleh Bareskrim Polri di kediamannya di Bogor, Jawa Barat pada 3 Desember 2020.

Berdasarkan surat penangkapan bernomor SP.Kap/184/XII/2020/Dittipidsiber, Ustadz Maaher At-Thuwailibi sudah ditangkap atas dasar laporan Waluyo Wasis Nugroho pada 27 November lalu.

Nikita Mirzani

Maaher diduga terkait tindak pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antar golongan ( SARA ). Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini