Lagu Sesaat Kau Hadir dari Utha Likumahuwa Dikemas Ulang, Hadirkan Konsep Retrofuturistik

Adiyoga Priambodo, Jurnalis · Rabu 18 November 2020 22:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 18 205 2312013 lagu-sesaat-kau-hadir-dari-utha-likumahuwa-dikemas-ulang-hadirkan-konsep-retrofuturistik-KK3umhPcDV.jpeg Utha Likumahuwa (Foto: Warner Music Indonesia)

JAKARTA - Lagu milik mendiang Utha Likumahuwa berjudul Sesaat Kau Hadir dikemas ulang. Aransemen berbeda dihadirkan dengan nuansa yang lebih modern dan milenial.

Karya pop klasik Utha Likumahuwa, Sesaat Kau Hadir kini hadir dengan nuansa remix. Musisi bernama CVX mengemas ulang lagu terkenal tersebut dengan nuansa modern namun menghadirkan konsep retrofuturistik.

Ikki Witjaksono adalah sosok di balik CVX yang bertanggung jawab meremix “Sesaat Kau Hadir”. Nuansa 1980-an yang kental; berbasis elektronik, dengan corak new wave/retrowave kuat tak hilang dalam Sesaat Kau Hadir yang tampil lebih modern.

Baca Juga:

Pindah Agama, Dena Rachman Menangis saat Pergi ke Gereja

Dihujat Lantaran Kasus Dugaan Video Syur, Gisella Anastasia: Padahal Lagi On Fire

Utha Likumahuwa

"Saya mencoba bikin remix yang tetap singable seperti lagu aslinya, namun dengan mood dan energi yang berbeda. Saya membayangkan menyanyikan lagu ini sambil high-speed night driving. Haha,” ujar Ikki/CVX dalam rilis yang diterima Okezone.

Mengemas ulang lagu berkarakteristik kuat seperti Sesaat Kau Hadir dari Utha Likumahuwa tentunya tidak mudah. Ikki harus meramu musik namun tidak menghilangkan ruh Utha dalam lagu tersebut.

“Saya harus buat musik yang danceable tapi juga mencocokkan dengan suara Utha Likumahua, sehingga seakan-akan beliau memang menyanyikan di atas musik yang saya buat,” jelasnya.

Sesaat Kau Hadir juga hadir dalam dimensi visualizer. Untuk menghadirkan visual yang kuat Ikki menggandeng seniman 3D, Okky Firmansyah. Menghadirkan nuansa modern namun tetap ada warna dan benang merah gaya 1980-an.

"Proses kreatifnya; mengkombinasikan ciri khas gaya retro/vaporwave ala ’80-an dengan gaya surealis yang diolah melalui software grafik 3D,” jelas Okky.

Sementara itu, sang sutradara visualizer, Henry Foundation menggunakan pita VHS sebagai pondasi awal. Jadi saya bikin grafisnya, kemudian print visual tersebut ke pita VHS, karena saya memang ada alatnya. Jadi konsepnya, di-print ulang lewat VHS,” jelas Henry. “Ternyata hasilnya cukup otentik; kualitas VHS asli dengan resolusi rendah. 'Buruk' tapi estetik; VHS-aesthetics.”

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini