nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perankan Tokoh Melayu Bikin Putri Marino Asah Kemampuan Akting

Vania Ika Aldida, Jurnalis · Rabu 04 April 2018 12:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 04 206 1881934 perankan-tokoh-melayu-bikin-putri-marino-asah-kemampuan-akting-T9uKrZR7Uv.jpg Chicco Jerikho dan Putri Marino (Foto: Sarah/Okezone)

JAKARTA - Putri Marino mengaku menghadapi beberapa kesulitan saat melakukan syuting film Jelita Sejuba yang akan mulai tayang pada Kamis, 5 April 2018. Menurutnya, penampilannya sebagai Sharifa sempat membuatnya merasa stres lantaran harus bermain dalam tiga fase berbeda. Yakni menjadi seorang remaja, seorang istri, dan juga seorang ibu.

"Karakter Sharifa di sini menurut aku kompleks banget karena di sini Sharifa memainkan tiga fase," ungkap Putri Marino usai press screening film Jelita Sejuba di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

"Jadi ada tiga fase ini sempat bikin aku stres waktu reading. Gimana caranya ada perbedaan di antara fase-fase ini. Dari fase pertama, kedua, ketiga, itu kan harus ada bedanya. Enggak tahu sih ada bedanya apa enggak haha tapi semoga membuahkan hasil lah proses reading kemarin," sambungnya.

(Baca Juga: Gilang Dirga Temukan Pelaku Pelecehan Seksual Terhadap Istrinya)

(Baca Juga: Dikritik Makan dengan Tangan Kiri, Rina Nose Ucapkan Terima Kasih)

Tidak hanya mengaku sulit memerankan tokoh Sharifa. Ia juga mengaku bahwa berperan dengan menggunakan dialek Melayu dianggap sangatlah sulit.

Tak hanya sampai di situ, wanita 24 tahun ini mengaku jarak Natuna yang jauh menjadi sebuah kesulitan cukup berarti baginya. Sebab, susahnya sinyal membuat ia menjadi seperti terisolasi saat melakukan syuting.

"Bahasanya susah, dialegnya susah, karena aku belum pernah berdialeg Melayu sebelumnya. Dengar pernah tapi memang kalau buat ngobrol, komunikasi secara fasih belum pernah. Untungnya ada waktu satu bulan, ada latihan juga sama orang asli Natuna. Jadi mulai terbiasa dengan dileg melayu," paparnya.

"Natuna kan sangat jauh dari Jakarta terus memang di situ enggak ada sinyal. Dan tempat kita nginep di asrama memang enggak ada TV. Jadi selama sebulan lebih kita kayak terisolasi gitu. Enggak ada sinyal, enggak ada TV," tandasnya.

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini