JAKARTA - Brandon Salim menjadi salah satu bintang muda yang dipercaya membawakan peran Beni dalam film Dilan 1990. Berkat film tersebut, anak kandung Ferry Salim tersebut mendapatkan pengalaman berbeda dari film-film sebelumnya.
Ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Brandon Salim mengaku bisa merasakan nikmatnya mengendarai mobil kuno berkat perannya di film yang diadopsi dari novel Pidi Baiq ini. Ia juga menjiwai perannya dengan mendengarkan berbagai musik yang hits di era 90-an.
"Pas di film Dilan ini gue bener-bener ngerasain oh ternyata mobil kuno itu kaya gini ya," ungkapnya pada Rabu (13/12/2017).
"Terus pas di ruang make up pas lagi syuting gue tanya dong orang jaman dulu itu lagu yang disuka apa pas jatuh cinta. Kita tanya sama teman yang kerja bareng sama kita tapi umurnya 30 tahunan lah 'kalian yang didengerin pas lagi jatuh cinta pas jaman 90 an apa'. 'Oh banyak kayak Tommy Page ya sudah setiap hari gue dengerin lagu itu. Gue ngerasa oh jatuh cinta pas jaman 90 an tu kayak gini ya rasanya. Gue mendalamkan musik itu ke dalam pikiran gue oh jadi orang jaman dulu itu romantis jadi gue merasa banget kayak gitu," imbuh Brandon Salim.
BACA JUGA:
Brandon Salim harus berhadapan dengan Iqbaal yang menjadi rivalnya pada film yang tayang serentak di bioskop Tanah Air pada 25 Januari 2018 ini. Salah satu adegan yang harus diperankan bahkan mewajibkan pemain film Winter In Tokyo tersebut untuk berkelahi dengan Dilan yang diperankan oleh Iqbaal.
Beberapa bintang muda dipastikan memeriahkan film Dilan 1990 selain Brandon Salim, Vanesha Prescilla, dan Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan. Mereka adalah Gusti Rayhan, Zara JKT48, Rifnu Wikana, Giulio Parengkuan, dan masih banyak lagi.
Bermain dalam film yang diadopsi melalui novel best seller, tentu menjadi tantangan tersendiri untuk para pemain. Hal ini juga dirasakan oleh Fajar Bustomi sebagai sang sutradara. Namun atas arahan dari Pidi Baiq, penulis sekaligus pihak yang tahu kondisi saat itu, Fajar Bustomi semakin percaya diri.
"Yang bikin saya enggak takut salah ada Pidi Baiq makanya. Ayah Pidi memang tahun 90 dia kelas 2 SMA. Itu yang meyakinkan saya. Intinya ketika novel diadaptasi ke film, enggak bisa diwakili semua orang, bagaimana ayah Pidi Baiq nulisnya dan ngebayanginnya," pungkasnya.
(ade)
Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri