Share

Pearl Jam Kenang Tragedi 9/11 dan Roskilde dalam Album Barunya

Ady Prawira Riandi, Jurnalis · Senin 13 November 2017 22:45 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 13 205 1813492 pearl-jam-kenang-tragedi-9-11-dan-roskilde-dalam-album-barunya-IVBN8l8Hcl.jpg Pearl Jam (Foto: NME)

LOS ANGELES – Pearl Jam memutuskan mengambil cuti lama setelah menyelesaikan tur Binaural pada awal tahun 2002 untuk menggarap album studio ketujuh mereka, Riot Act. Dalam proses penggarapan album baru ini, Pearl Jam diproduseri oleh Adam Kasper, yang pernah bekerja sama dengan band Matt Cameron, Soundgarden dan Wellwater Conspiracy.

(Baca Juga: Gagal Bersama Selena Gomez, The Weeknd CLBK dengan Bella Hadid?)

Hampir keseluruhan lagu dari Riot Act direkam secara live karena Vedder berjongkok di sudut studio sambil mengetik lirik menggunakan sebuah mesin tik tua sambil mendengarkan teman-teman bandnya bermain.

“Rasanya seperti menangkap kupu-kupu. Tepat di saat Anda berpikir Anda akan menyerah, setelah duduk di sana berjam-jam, seketika ide itu muncul dan menghampiri,” kata Vedder seperti dilansir Rollingstone, Senin (13/11/2017).

Lagu-lagu yang terkumpul bernuansa rock dengan tempo sedang dan folk ballad yang bergulat dengan tragedi-tragedi yang masih segar di ingatan, serangan terror 11 Septemeber 2001 dan kematian sembilan penggemar Pearl Jam di bulan Juni 2000 saat Roskilde Festival digelar di Denmark.

“Garis merahnya adalah penggambaran betapa sulitnya kehidupan berjalan. Bagian positif dari (Roskilde) adalah, kejadian itu memperkuat filosofi bahwa Anda benar-benar perlu memanfaatkan momen dan hari itu seharunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ucap Jeff Ament.

(Baca Juga: Romantis Sekali, Drake Siapkan Tas Birkin Hermes untuk Calon Istri)

Sementara rasa frustasi Vedder cs terhadap tragedy 9/11 datang dari panggung Stone Gossard’s “Bu$hleaguer” Live. Vedder membuat sebuah kontroversi dengan menyanyikan sebuah lagu dengan mengenakan topeng plastic berwajah Bush.

“Ini bukan gerakan anti-Amerika untuk mengkritisi pemerintah. Kami ingin memberikan beberapa gagasan di luar sana yang mungkin bisa membantu menciptakan sebuah debat terbuka dan jujur,” kata Vedder saat itu.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini