Di tahun yang sama, beban yang harus ditanggung Elly Sugigi kian berat. Hidup di bawah standar kelayakan membuat kondisi kesehatan Elly menurun. Puncaknya, Elly harus kembali mencari pinjaman dana segar untuk pengobatan pasca divonis menderita gangguan paru-paru.
Jadi penonton alay
Hutang yang terus bertambah membuat posisi Elly Sugigi kian terdesak. Tak jarang Elly harus bersembunyi dari kejaran para penagih hutang lantaran tidak mampu melunasi uang pinjaman.
Dengan kondisi yang semakin tidak menguntungkan, Elly Sugigi akhirnya mulai berupaya mengais pundi-pundi Rupiah dari segala lini. Salah satunya termasuk saat ia ikut mendaftar sebagai penonton alay di salah satu televisi swasta pada tahun 2004.
Mendapat pekerjaan sebagai koordinator alay tidak lantas menyelesaikan masalah hutang Elly Sugigi. Pasalnya, Elly hanya mendapat upah sebesar 10 ribu Rupiah setiap kali hadir di acara tersebut.
"Mulai masuk TV itu saya awalnya jadi penonton alay dulu," kata Elly Sugigi.
Tak disangka, keputusan Elly Sugigi untuk mendaftar sebagai penonton alay justru berhasil merubah nasibnya. Kala itu, Elly terlibat dalam sebuah peristiwa yang membuatnya mendapat pekerjaan sebagai koordinator penonton alay.
"Iya di salah satu stasiun tv swasta. Eh waktu di situ ternyata nemu handphone, dan ternyata itu punya produser. Akhirnya saya balikin ke produsernya. Dari situ, karena produsernya lihat kejujuran saya, akhirnya dikasih pekerjaan jadi koordinator alay," kenang Elly Sugigi.