Ia mengatakan pada awal-awal menyampaikan pidato dengan pantun memang banyak yang memandang aneh, namun lama kelamaan menjadi biasa. "Kalau ada yang keberatan dengan gaya pidato yang disampaikan dengan pantun, ya tidak usah undang gubernur," kata dia.
Sastrawan Taufik Ismail dalam kata pengantar buku pantun itu, menilai ekspresi pantun Irwan Prayitno tidak kaku, bebas lincah, tapi patuh kaidah, dari bahasa Indonesia melompat ke bahasa Minang, bolak-balik tanpa halangan.
Ia berharap karya tersebut akan bisa memantik kreativitas, terutama generasi muda untuk menghasilkan gaya penulisan kreatif lainnya.
(ful)
Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri