Image

Maestro Melayu-Jazz Kesulitan Cari Penerus

ant, Jurnalis · Jum'at 13 Januari 2017, 17:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 01 13 205 1590998 maestro-melayu-jazz-kesulitan-cari-penerus-C1exzaED2t.jpg Ilustrasi. Musisi Jazz tengah tampil di panggung (Foto: Okezone)

PEKANBARU - Maestro musik melayu-jazz asal Provinsi Riau, Eri Bob, sangat berharap ada generasi muda yang meneruskan langkahnya dalam genre musik yang dikembangkannya itu.

"Saya sebenarnya berharap ada anak muda yang bisa mengembangkan melayu-jazz ini supaya lebih besar lagi," kata Eri Bob di Pekanbaru, Jumat (13/1/2016).

Nama Eri Bob sempat menghentak blantika musik nasional dan mengharumkan Riau bersama grup musik bentukannya yang bernama "Geliga", pada dekade 2000-2010. Pria berusia 51 tahun ini merupakan komposer pertama yang mempopulerkan melayu-jazz, sebuah genre yang memadukan irama tradisi timur dengan musik populer.

Di masa tuanya kini, Eri Bob masih terus konsisten menghasilkan karya, namun ia juga mengaku gundah karena tidak ada penerus. "Kadang saya bilang ke anak-anak (pemusik) kalau ada yang mau belajar datang saja ke rumah, tapi tak ada juga yang datang. Padahal saya tak pernah bebankan apa pun, hanya harapkan mereka kembangkan (melayu-jazz)," tururnya.

Bersama Geliga, Eri telah memproduksi tiga album yakni "Instrumental Jazz Melayu Riau" (2002), "Dang Bulan Nang Julang" (2007), dan "Tan Malaka" (2010). Geliga juga dikenal oleh pencinta musik jazz tanah air setelah penampilan mereka di Java Jazz Festival 2007, kemudian konser Satu Bumi Beribu Bunyi, Bandung World Jazz yang pertama pada 2009, dan Malacca Strait Jazz Festival di Pekanbaru. Geliga juga pernah tampil di Festival Zapin Melayu, Festival Budaya Melayu, dan The World Malay Arts Celebration.

Menurut dia, karya melayu-jazz dari Geliga menjadi referensi pemusik muda yang menimba ilmu di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat dan Institut Seni Musik Medan, Sumatera Utara. Eri Bob sebenarnya juga ingin agar ilmunya itu bisa diwariskan di Riau, yang sudah memiliki Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), dan Jurusan Seni Drama, Tari dan Musik (Sendratasik) di Universitas Islam Riau. "Saya mau, tapi tak ada yang mau ajak," ucap Eri Bob.

Selain karena tidak ada lagi acara musik di Pekanbaru yang menjadi wadah bagi perkembangan musik jazz, Eri mengatakan upayanya untuk mengembangkan melayu-jazz bersama Geliga juga sedikit "pincang" akibat personelnya berganti-ganti. Personel tetap Geliga yang tersisa selain Eri Bob kini hanya tinggal Siska (vokalis), Ridho (akordion), dan Yayan (drum).

"Ada yang pindah tempat tinggal, ada yang meninggal dan itu membuat Geliga sempat vakum cukup lama. Baru mulai 2015 muncul lagi semangat saya untuk bangkit lagi," ujarnya.

Budayawan Riau Yusmar Yusuf, yang membantu menulis semua lirik di seluruh karya Geliga mengatakan, ketidaksepahaman tentang pengembangan budaya melayu diantara seniman Riau sendiri, menjadi ironi yang mengungkung lahirnya inovasi untuk memperkaya seni di daerah berjuluk "Bumi Lancang Kuning" itu. Ketika sosok seperti Eri Bob dianggap sebagai guru oleh musisi jazz nasional, lanjutnya, namun di Riau justru dianggap golongan seniman abnormal. 

Padahal, ia menilai kemunculan Geliga dengan melayu-jazz awalnya diharapkan untuk membangun kesadaran bahwa ada potensi yang perlu diaktualisasi, sehingga siapa saja bisa memunculkan derivasi warna untuk memperkaya musik tradisi.

"Kesimpulannya adalah dia (Eri Bob) salah hidup. Kalau dia tinggal di Jakarta, atau dia di New Orleans yang mengakar musik jazz, pasti dia jadi musisi besar," ujar Yusmar Yusuf.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini