Tidak percuma Cokelat absen empat tahun dari dunia rekaman. Hasilnya, album terbaru Cokelat bertajuk Panca Indera kaya akan warna musik. Mulai dari musik etnik, bossanova, sampai reggae.
Nuansa etnik terasa kental di lagu berjudul The Hardest Part. Kendang, gending Bali, bahkan Dizyreddo (alat musik tiup khas suku Aborigin) membuat lagu ini penuh warna. Ditambah lagi, Kikan melantunkan The Hardest Part ini bersama vokalis grup band Frente, Angie Hart.
Belum puas dengan musik etnik, Cokelat merambah ke musik bossanova lewat lagu ciptaan Ernest, Nada Doa. Lagu ini benar-benar lagu paling eksperimental buat Cokelat. Sedikit bocoran, sebelumnya masing-masing personel sempat beradu argumen mengenai bossanova yang ingin ditampilkan Cokelat.
Lalu musik reggae yang terdengar asyik hingga membuat pendengar bergoyang bisa dinikmati di lagu Yang Terindah, ciptaan Ronny (pemain bass). Musiknya dikemas dengan gaya space reggae, yang mengombinasikan gaya elektronik dan reggae.
Meski Cokelat menghadirkan nuansa musik baru dalam album terbaru, bukan berarti ciri khas Kikan dengan anger mood-nya lenyap. Di lagu Terluka dan Salah, "kemarahan" Kikan lewat vokalnya terasa kental.
Tak ketinggalan lagu penyemangat bagi para atlet Tanah Air, Suara Kemenangan. Lagu yang biasa didengar saat piala Thomas dan Uber 2008 berlangsung, ada di album ini.
Kurang lengkap rasanya jika tak ada satu lagu ballad di album Cokelat. Lagu Bukan Hari Ini, ciptaan Kikan dan Ernest yang bercerita tentang perpisahan melengkapinya. Warna musik pop yang easy listening dengan isian gitar akustik.
Butuh banyak kata untuk mengungkapkan isi album Panca Indera. Yang jelas, total waktu satu setengah tahun untuk merampungkan album ini terasa bukan hal yang sia-sia. Ditambah lagi, setiap personel menyumbangkan lagu ciptaan mereka.
Lagu di album Panca Indera :
1. Salah
2. Suara Kemenangan
3. The Hardest Part
4. Akhiri
5. Yang Terindah
6. Bukan Hari Ini
7. Nada Doa
8. Recall
9. Semangatku
10.Pinjam Hatimu
11.Terluka
12.Tak Berujung
(lsi)