Bekerja sama dengan anak-anak disabilitas ternyata menjadi tantangan emosional tersendiri bagi Ajil. Aktor muda itu mengaku harus berjuang keras menahan gejolak perasaan di depan kamera.
"Kali ini bekerja betul-betul pakai hati. Ternyata kesulitannya bukan di mereka, tapi di gue yang harus nahan emosi, sering nangis," katanya.
Sebagai sosok pelindung dalam cerita, Ajil dituntut untuk terlihat tegar. Namun, pertahanannya kerap runtuh disela jeda syuting.
"Gue di sini harus sekuat mungkin di depan kamera. Yang mana ternyata itu sangat sulit. Beberapa kali setelah sok kuat pas kata 'action', pas benar kata 'cut', gue langsung kabur berpelukan sama Ayah (Produser Abdullah Mansuri) sambil nangis," kenangnya.
Selain pengalaman akting yang membekas, Ajil Ditto juga menemukan kebahagiaan personal. Di lokasi syuting, dia merasa menemukan kembali sosok ayah yang telah lama hilang dari hidupnya.