“Yang berat itu justru adegan-adegan sederhana. Ketika karakter Intan cuma menahan capek, menahan kecewa, tapi tetap harus kelihatan baik-baik saja. Banyak perempuan melakukan itu setiap hari,” katanya.
Raihaanun menyebut film ini bukan hanya bicara tentang mertua atau konflik keluarga, tetapi juga tentang komunikasi pasangan yang perlahan hilang karena tekanan hidup.
Omar Daniel mengungkapkan, karakter Damar membuatnya memahami posisi laki-laki yang sering terjebak di tengah dua tanggung jawab besar: keluarga lama dan keluarga baru.
“Damar itu bukan suami jahat. Dia cuma bingung dan terlalu lama menunda memilih sikap. Kadang laki-laki memang merasa harus menyenangkan semua orang, padahal akhirnya malah menghancurkan rumah tangganya sendiri,” ucap Omar.
Topik tentang sandwich generation dan tekanan ekonomi memang terasa sangat relevan dengan kehidupan banyak keluarga muda saat ini.