“Ide dari lagu ini bukan soal mabuk-mabukan, tapi lebih ke rasanya pahit. Semacam penggambaran suasana hati orang-orang yang tidak senang dengan pencapaian orang lain,” ujar Ave.
Lewat lagu itu, Ave juga ingin memperkenalkan budaya Indonesia Timur kepada pendengar yang lebih luas. Nuansa lokal dipadukan dengan sentuhan musik modern menjadi salah satu identitas kuat dalam karya-karyanya.
Kini, Ave tengah mempersiapkan sebuah EP bertema cinta yang menjadi kelanjutan dari semesta Nona. Selain itu, ia juga sedang menggarap mixtape dengan berbagai tema dan genre musik.
Musikalitas Ave banyak dipengaruhi musisi dunia seperti J. Cole, Mac Miller, hingga Smino. Meski begitu, akar musik Indonesia Timur tetap menjadi identitas utama yang membuat Ave the Artist tampil berbeda dan sulit dilupakan.
Jika Nona dan MOKE baru permulaan, rilisan terbaru Ave the Artist jelas menjadi salah satu yang patut dinantikan para penikmat musik Indonesia.
(kha)