JAKARTA – Masa sulit Pramoedya Ananta Toer ternyata telah dirasakan olehnya sejak SD. Ayahnya, Mastoer Imam Badjoeri punya peran besar bagaimana Pria yang akrab disapa Pram itu merasakan pahitnya hidup.
Sebagai pria berprestasi di sekolah Budi Oetomo, ayah Pramoedya Ananta Toer mengharapkan sang putra bisa mengikuti jejaknya. Namun hal itu tak bisa dilakukan oleh Pram karena selama 3 kali ia pernah tidak naik kelas.
Baca Juga:
Sudah Tak Sayang, Ali Syakieb Santai Soal Perjodohan Citra Kirana dan Rezki Aditya
Lewat Surat Perpisahan Menyentuh, Uki Pamit dari Band NOAH
“Sekolah yang seharusnya selesai 7 tahun, tapi bisa saya tamatkan 10 tahun membuat dia kecewa,” kata Pram dalam video yang diunggah Falcon di YouTube pada 25 Juli 2019.
Kekecewaan ayah Pram membuat pria kelahiran Blora itu lantas menjadi rendah diri. Sehingga dibandingkan bergaul dengan teman sekolahnya, Pram kecil justru memilih bersama dengan anak-anak buruh tani.
“Pergaulan saya hanya bersama mereka, di situ saya merasa sederajat. Tapi di luar lingkungan itu, saya tidak berani menyatakan pendapat dan menuangkannya dalam tulisan,” jelas Pram.
Kekecewaan ayah Pramoedya Ananta Toer rupanya tidak berhenti sampai ia selesai sekolah dasar. Bahkan saat Pram berkeinginan untuk melanjutkan sekolah ke Madiun, ayahnya justru menyuruh dia untuk belajar lagi di Budi Oetomo.
“Dia bilang ‘anak bodoh! kembali ke sekolah,” kata Pram.
Baca Juga:
Jennifer Dunn Unggah Foto Bareng Suami, Netizen Nyinyir
Marshanda dan Millendaru Unggah Foto Pamer Dada, Netizen: Makin Berani
Tanpa banyak protes, Pram kemudian kembali ke sekolahnya dan masuk ke kelas. Di saat itu, gurunya, Meneer Amir mempertanyakan untuk apa ia mengulang sekolahnya. “Kau kan sudah tamat, untuk apa datang lagi? kata Meneer saat dia mendatangi saya,” kata Pram.
Pram kecil pun tidak tahu lagi harus berkata apa untuk menerangkan alasannya kembali ke sekolah tersebut. “Tanpa ngomong apapun, saya tinggalkan kelas itu lalu pulang,” tegasnya.
Rumah bukan lagi menjadi tempat terbaik bagi Pram, ia justru memilih kuburan untuk menumpahkan kesedihannya. Momen itu membuat pria kelahiran 6 Februari ini merasa sendirian dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Di samping pohon Jarak, saya menjerit sejadi-jadinya. Bahkan sampai sekarang, saya masih menangis kalau mengingat hal itu. Tidak tidak ada tangan yang diulurkan kepada saya kala itu,” papar Pram.
Baca Juga:
Nikita Mirzani Pamer Foto Berbikini, Netizen: Akal Sehatnya Hilang
Rai Mendadak Tinggalkan Jumpa Pers Konser D Masiv
Selama bertahun-tahun Pramoedya mengidap penyakit rendah diri. Baru pada saat ia ke Belanda untuk pertukaran pelajar tahun 1950 an, perasaan itu hilang. Lantaran Pram melakukan hubungan intim dengan orang Belanda.
“Saya berpacaran dengan noni Belanda dan untuk pertama kalinya melakukan hubungan itu. Setelah itu saya merasa sederajat dengan siapapun dan saya sangat berterima kasih kepada pacar saya itu,” pungkasnya.
(aln)