Mengambil setting beberapa tahun setelah kejadian di film pertama, Taman Jurassic World yang hancur berkeping-keping kini menyisakan para dinosaurus yang mendapat ancaman baru dengan hadirnya aktivitas tinggi dari gunung berapi di sana. Pemerintah setempat secara mengejutkan mengambil langkah untuk membiarkan para dinosaurus punah karena tak ingin mengancam populasi manusia jika harus diselamatkan.
Kendati menawarkan konflik-konflik baru, Jurassic World: Fallen Kingdom nyatanya tetap mengemas filmnya tak jauh berbeda dengan film-film Jurassic yang lama. Formula-formula lama seperti kebodohan kecil yang mengancam jiwa seseorang, aksi kejar-kejaran dengan dinosaurus, atau bahkan menciptakan sebuah ketegangan dari teror dinosaurus karnivora secara konstan digunakan sepanjang jalannya film.
Hal ini tentu saja terasa sangat monoton dan membosankan karena pada dasarnya Jurassic World tidak menawarkan sebuah sensasi menonton yang berbeda. Para audiens otomatis hanya disuguhkan penegasan bahwa Jurassic World berbeda satu level dari Jurassic Park karena mampu menciptakan spesies-spesies dinosaurus baru hasil kreasi DNA Dr. Henry Wu (BD Wong). Tagline “Menciptakan makhluk baru dari serpihan-serpihan masa lalu” seolah menjadi sesuatu yang sangat menjual di film kedua ini.
Padahal jika dipikir-pikir, film ini memiliki potensi besar untuk bisa tampil lebih berbeda dari para pendahulunya. Sebagai contoh, Jurassic World pertama memperkenalkan satu prototype dinosaurus baru yang dinamai oleh Dr. Wu sebagai Indominus Rex. Makhluk hybrid dengan gabungan beberapa DNA ini tamat riwayatnya di rahang Mosasaurus, satu spesies besar yang hidup di dalam air.