JAKARTA - Makam Adjie Massaid di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, terbilang cukup bersih dan terawat. Siapa orang yang setia menjaga dan merawat makam suami Angelina Sondakh itu?
Okezone menemui penjaga makam Adjie bernama Dasir di TPU Jeruk Purut, Jakarta, Senin (21/2/2011). Sepintas, penampilan Dasir tak seperti perawat makam lain yang lusuh penuh noda tanah. Bajunya bersih tertutup jaket jins berwarna abu-abu.
Awalnya, Dasir tak bersedia diwawancara okezone. Setelah dibujuk, akhirnya Dasir berkompromi dengan syarat menolak diambil gambarnya.
"Ya sudah, tapi enggak usah pakai difoto di dekat makam segala ya, bang," pinta Dasir halus.
Pria berkumis tebal itu beranjak, kemudian duduk di depan kios penjualan pulsa tak jauh dari makam Adjie. Pria Betawi asli itu bertutur awal mula dirinya dipercaya merawat makam Adjie dan keluarganya.
"Sebelumnya, keluarga dari ibunya Adjie Massaid memang dimakamkan di sini. Waktu ayahnya mas Adjie meninggal tahun lalu, saya diminta keluarga Adjie untuk menjaga makam keluarga mereka. Termasuk dari ibu Angie juga meminta agar menjaga dan merawat makamnya mas Adjie," paparnya.
Tugas yang diemban Dasir sederhana saja. Menyiram makam dan menyiangi rumput yang tumbuh di sekitar nisan sehingga terlihat rapi dan enak dipandang. Pekerjaan itu rutin dia lakukan, kecuali memotong rumput yang dikerjakan seminggu dua kali.
Dari kerjanya sebagai perawat makam keluarga Adjie, Dasir menerima upah Rp400 ribu setiap bulan. Namun, Dasir belum tahu apakah bayaran itu termasuk mengurus makam penghuni baru, Adjie Massaid.
Lelaki yang sudah 15 tahun berprofesi sebagai perawat makam itu sungkan menanyakannya langsung kepada istri almarhum, Angelina Sondakh.
"Karena saya juga tidak berani ngomongnya. Saya belum kepikiran untuk minta. Saya mengerti mbak Angie masih sedih ditinggal mas Adjie. Jadi nanti saja kalau sudah sebulan atau dua bulan, biar mbak Angie sedikit tenang," ujarnya.
Menurut Dasir, upahnya dari keluarga Adjie sebenarnya di atas rata-rata jika dibandingkan dengan upah penjaga makam lain.
Dengan upah sebesar itu pula, Dasir bisa menghidupi istri dan kedua anaknya. Pria berusia 38 tahun itu mulai merintis usaha warung internet miliknya di komplek TPU Jeruk Purut.
Di ujung perbincangan, Dasir teringat kunjungan Adjie terakhir kali ke makam ayahnya, dua hari sebelum Adjie meninggal pada 5 Februari 2011. Meski tak banyak percakapan di antara mereka saat kunjungan terakhir Adjie, Dasir masih ingat betul sosoknya.
"Mas Adjie orang baik, makanya (makamnya) harus dijaga dengan baik," pungkasnya.
(ang)