JAKARTA - Menjadi ikon sebuah novel yang mengangkat cerita yang paling laris di Indonesia merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan bagi Happy Salma.
Konon dengan terpilihnya sebagai ikon, Happy mengaku ingin meluruskan persepsi yang salah dari cerita klasik Siti Nurbaya "Aku mempunyai kesukaan tersendiri terhadap dunia sastra, selain itu dengan jadi ikon Aku juga ingin mengubah distorsi dari Siti Nurbaya. Karena yang dulu dan sekarang berbeda," paparnya saat di temui di Hotel Aryaduta, Jakarta kemarin.
Dalam kehidupan nyata Happy pun mengaku tak ingin mengalami kisah seperti Siti Nurbaya yang bersuamikan pria berperangai buruk layaknya Datuk Maringgih
"Aku tak punya pengalaman seperti Datuk Maringgih, karena zamannya pun sudah berbeda. Aku juga tidak mau punya suami seperti Datuk Maringgih," lanjutnya.
Rasa cintanya pada dunia sastra kerap membuat Happy geram dan prihatin melihat anak Indonesia lebih menyukai komik dibandingkan dunia satra. Tak hanya itu saja perkembang zaman pun membuat Happy menyuarakan wanita harus bisa mengukir prestasi sejajar dengan kaum adam.
"Aku prihatin banyak anak Indonesia tak suka sastra, mereka lebih suka novel dan Naruto. Wanita harus bisa sekolah lebih tinggi agar lebih dihargai, karena sekarang wanita sejajar dengan pria," tandasnya.(fit)
(mbs)