Melalui konser ini, keduanya menghadirkan perjalanan musikal yang melintasi berbagai zaman dan budaya, mulai dari Corelli, Chopin, Poulenc, Wieniawski, interpretasi baru atas Ode to Joy karya Beethoven, komposisi orisinal Iskandar Widjaja, karya-karya Ryuichi Sakamoto, medley animasi Jepang, hingga musik populer yang telah menjadi bagian dari ingatan banyak generasi. Bagi Iskandar, repertoar itu bukan sekadar daftar karya. Masing-masing menyimpan cerita.
"Banyak karya yang kami bawakan adalah musik yang menemani masa kecil saya. Memainkannya kembali seperti membuka album kenangan yang penuh kehangatan dan ketulusan," katanya.
Tahun ini juga menjadi penanda perjalanan hidup yang baru. "Saya baru saja menginjak usia 40 tahun. Karena itu, konser ini bukan hanya menjadi perayaan perjalanan yang telah saya tempuh, tetapi juga pembuka babak baru dalam kehidupan dan perjalanan artistik saya. Saya tidak sabar untuk membagikan momen itu bersama publik Indonesia," jelasnya.
Konser ini bukan hanya mengundang para pencinta musik klasik. Ia mengundang generasi muda, keluarga, sahabat, dan siapa saja yang ingin menikmati sebuah pengalaman budaya yang memperkaya rasa dan memperluas wawasan. Karena ada malam-malam yang berlalu begitu saja.
Namun ada pula malam yang tinggal di dalam ingatan. Bukan semata karena musiknya. Melainkan karena pada malam itu kita merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar: persahabatan, kebersamaan, dan kecintaan pada keindahan.
(kha)
Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri