Menariknya, penyebaran drama pendek China juga tidak cuma terjadi di dalam negeri. Data terbaru Yicai Global menunjukkan bahwa dari Januari sampai Agustus 2025, pendapatan drama pendek China dari pasar luar negeri hampir mencapai USD1,5 miliar, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa drama pendek China berhasil menarik penonton global, bukan hanya di Asia Tenggara tetapi juga di berbagai wilayah lain. Hal ini membuat drama pendek China menjadi salah satu bentuk soft power budaya baru yang serius karena tidak hanya populer, tapi juga menghasilkan pendapatan besar di luar negeri.
Bukan hanya soal pendapatan yang besar, dominasi pengembang aplikasi (developer) China di pasar drama pendek global juga sangat kuat. Data dari Econo Scope menunjukkan bahwa dari 50 aplikasi short drama dengan pendapatan tertinggi di dunia, lebih dari 80% dikembangkan oleh perusahaan China. Ini berarti China tidak hanya memproduksi konten, tetapi juga menguasai sebagian besar platform distribusi drama pendek di seluruh dunia.
Meski Hollywood dan Korea Selatan masih tetap besar di dunia hiburan, tren konten drama pendek mulai menarik perhatian mereka juga. Beberapa studio di Amerika Serikat (AS) sekarang mulai mencoba format drama pendek dan investasi pada startup drama pendek di AS meningkat signifikan.
Menurut data platform bernama GammaTime berhasil mengumpulkan USD 14 juta (Rp233,8 miliar ) dari investor besar termasuk beberapa nama Hollywood untuk membuat konten drama pendek khusus untuk penonton AS. Sedangkan di Korea Selatan (Korsel) penikmat drama pendek menggunakan platform Dramabox dan Vigloo. Ini menunjukkan bahwa format yang awalnya populer di China tidak hanya menantang dominasi hiburan dari Hollywood dan Korsel, tapi juga mempengaruhi industri hiburan global.
Tidak semua orang setuju kalau fenomena drama pendek China berjalan mulus. Kritikan muncul karena ceritanya sering terlalu mudah ditebak, terlalu fokus pada cerita yang berhenti di momen tegang, karakter kurang berkembang, atau cerita terlalu cepat tanpa memberi ruang bagi emosi penonton.
Selain itu, regulasi di China yang mengatur konten supaya sesuai nilai sosial tertentu juga jadi tantangan karena bisa membatasi kreativitas kreator. Tapi, kritik ini justru menunjukkan kalau industri ini sedang proses belajar dan bereksperimen untuk menjadi lebih matang.