Contohnya, Hollywood sudah lama menyebarkan nilai-nilai Barat seperti kebebasan individu, cerita pahlawan super, dan gaya hidup Amerika lewat film dan serialnya. Korea Selatan lewat drama Korea juga menyebarkan gaya hidup dan cerita cinta ala oppa Korea ke seluruh dunia.
Ini semua bentuk hegemoni budaya, di mana banyak orang di berbagai negara ikut setuju tanpa sadar bahwa hiburan dari mereka itu adalah yang “paling keren” atau “paling modern”.
Dalam situasi ini, drama pendek China mencoba jadi counter hegemoni, artinya menawarkan cerita yang berbeda. Ceritanya tetap menyentuh, seru, plot cepat, dan memberikan cara baru orang menonton lewat ponsel. Drama yang sangat singkat ini tidak memaksa nilai tertentu, tapi membuat orang setuju lewat hiburan yang cepat, mudah ditonton, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Perubahan cara menonton jadi alasan utama kenapa drama pendek China bisa sangat populer. Generasi baru penonton di seluruh dunia sekarang lebih sering menonton lewat ponsel saat istirahat kerja, menunggu kendaraan, atau saat santai malam hari. Karena durasinya singkat dan langsung ke cerita utama, format ini cocok dengan waktu perhatian orang yang makin pendek.
Karena itu, penonton bisa mengenal cerita, tokoh, dan nilai dari konten China tanpa dipaksa, tapi lewat kebiasaan menonton sehari-hari. Gramsci mengatakan hegemoni terjadi saat ide tertentu terasa biasa atau wajar bagi banyak orang dan drama pendek ini sedang membuat hiburan yang cocok dengan kehidupan mereka.
Industri drama pendek China bukan sekadar tren kecil. Saat ini, bisnis ini sudah sangat besar dan bernilai miliaran dolar. Laporan Media Partners Asia (MPA) memperkirakan bahwa nilai pasar micro drama China mencapai sekitar USD 9,4 miliar (sekitar Rp156 triliun) pada tahun 2025. Jumlah ini naik tajam dibandingkan 2023 yang hanya USD5,1 miliar dan 2024 yang USD6,9 miliar.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa cara orang menonton yang berubah, terutama lewat ponsel, berdampak besar pada ekonomi konten di China. Laporan MPA juga memproyeksikan nilai pasar drama pendek ini bisa terus naik sampai USD16,2 miliar (Rp270,5 triliun) pada tahun 2030.