Cerita ini tidak hanya mengeksplorasi kekerasan fisik, tetapi juga memperlihatkan adegan kekerasan seksual yang sangat eksplisit. Konten yang sangat kejam dan sensitif ini menjadi alasan utama mengapa film ini dilarang tayang di beberapa negara.
Walaupun The Last House on the Left berhasil mendapatkan rating R di Amerika Serikat, banyak orang yang marah setelah menontonnya. Kemudian, film ini langsung mendapat penjegalan di Inggris sejak pertama kali rilis di bioskop.
Film The Last House on the Left versi asli membutuhkan waktu hingga tahun 2008 sebelum BBFC akhirnya mengizinkan untuk dirilis dalam bentuk video rumahan.
Situasi serupa juga terjadi ketika film ini pertama kali rilis di Australia. Meskipun banyak orang frustasi setelah menonton film tersebut, tetapi sebagian besar mereka menentang penyensoran film The Last House on the Left di negara mereka. Sehingga film ini begitu populer karena kontroversinya selama 50 tahun belakangan.
Demikian alasan kenapa film The Last House on the left dilarang tayang di Indonesia. Terimakasih.
(ltb)