nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Film Nasional, Joko Anwar Sayangkan Kurangnya Kru yang Miliki Skill

Vania Ika Aldida, Jurnalis · Minggu 31 Maret 2019 13:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 31 206 2037375 hari-film-nasional-joko-anwar-sayangkan-kurangnya-kru-yang-miliki-skill-JjQNUqxEwZ.jpg

JAKARTA - Film Indonesia dalam beberapa tahun belakangan memang cukup banyak diminati masyarakat. Jika biasanya hanya film-film karya hollywood yang berhasil menembus jumlah penonton hingga 1 juta. Di Indonesia, film dalam negeri kini mulai menunjukkan kebolehan mereka, bahkan sanggup meraih 3 juta penonton dalam waktu cukup singkat.

Hal tersebutpun membuat munculnya beberapa rumah produksi baru yang ikut berlomba untuk membuat sebuah film demi kemajuan industri perfilman khususnya di Indonesia.

Sayangnya, menurut sutradara Joko Anwar, hal paling darurat dalam industri perfilman ialah pemain yang memiliki skill serta kru yang tak cukup berkompeten.

 

Baca Juga: Perempuan Tanah Jahanam, Mimpi Joko Anwar yang Menjadi Kenyataan

"Barusan ditelpon wartawan nanya masalah perfilman Indonesia apa. Nanya soal tata edar, UU, dll," tulis Joko Anwar dalam unggahannya di akun Twitter.

"Saya bilang, masalah perfilman Indonesia yang paling URGENT adalah kurangnya kru dan pemain film yang PUNYA SKILL. Produksi tiap tahun makin banyak. Krunya nggak ada," sambungnya.

Ia menambahkan bahwa cukup banyak rumah produksi yang secara sukarela memproduksi film dengan orang-orang yang tak memiliki kemampuan dibidangnya.

Bahkan menurutnya, ketimbang membuat rumah produksi yang diisi oleh para pekerja kurang kompeten, lebih baik membuat pelatihan pembuatan film. Apalagi menurutnya tak banyak jurusan perfilman di Indonesia termasuk pengajar yang cukup berkompeten.

"Sekolah film kurang banyak, jurusan film di kampus-kampus kurang banyak. Pelatihan film kurang banyak. Pengajar yg kompeten juga kurang banyak. Kalo yg gak kompeten ngajar, sesat lah semua. Yg mau kerja di film gak mau belajar dulu. Dia kira kayak makan bubur ayam langsung bisa," paparnya.

"Menurut saya, PH-PH ketimbang bayar orang-orang yg nggak punya skill, mending bikin pelatihan. Penulisan skenario lah minimal. Ntar lulus dan bagus mereka pekerjakan. Datangkan pengajar yg kompeten. Kalo perlu dari luar negeri," tambahnya.

Soal ucapannya mengenai skill dari kru serta pemain, sutradara dari film Pengabdi Setan ini menyatakan bahwa minat penonton Indonesia terhadap film karya sendiri cukuplah besar. Ia ingin agar hal tersebut terus menerus dilakukan, lantaran dukungan tersebutlah yang sangat diperlukan seorang pembuat film terhadap karyanya.

Ia pun berharap agar jangan sampai film Indonesia kembali terjajah oleh tayangan hollywood lantaran pihak rumah produksi hanya menerima saja film-film yang di produksi secara asal. Apalagi dengan genre film yang hanya itu-itu saja.

 

"Perfilman Indonesia lagi di masa paling gemilang. Penontonnya paling banyak. Kepercayaan penonton terhadap film Indonesia paling tinggi. Pembuat film (terutama pemilik PH) jangan take it for granted. Bikin film asal, tema dan genre itu-itu aja. Jenuh ntar penonton dan ilang lagi," tutupnya.

(edh)

BERITA FOTO
+ 5

Ghaitsa Kenang Ikut Girang dengan Kesuksesan Film Dilan 1991

Ghaitsa turut merasakan dampak positif dari kesuksesan film Dilan 1991 yang kini tengah tayang di bioskop.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini