Saksi Sebut Cuitan Ahmad Dhani Menimbulkan Provokasi

Muhamad Rizky, Jurnalis · Senin 21 Mei 2018 19:28 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 21 33 1900938 saksi-sebut-cuitan-ahmad-dhani-menimbulkan-provokasi-taWJClYcaC.jpg Ahmad Dhani (Foto: Rizky/Okezone)

JAKARTA - Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan kembali menggelar sidang lanjutan terhadap musisi Ahmad Dhani atas kasus dugaan ujaran kebencian yang dilakukannya terhadap Basuki Tjahaja Purnama atau (Ahok).

Sidang kali ini dengan agenda pemeriksaan saksi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Senin, (21/5/2018).

Salah satu saksi dalam persidangan adalah Jack Boyd Lapian yang juga menjadi pelapor suami dari Mulan Jamela itu. Dalam kesaksiannya Jack menilai tulisan postingan Dhani memprovokasi maupun menebarkan kebencian terhadap Ahok.

 Ahmad Dhani

"Iya banyak (komentar dari pengikutnya di twitter) mayoritas memprovokasi dan usahu kebencian," kata Jack yang saat menjawab pertanyaan JPU.

- Baca Juga: Ahmad Dhani Sebut Ada Sutradara di Balik Bom Surabaya

Kasus ini sindiri bermula ketika Dhani menuliskan tweet pada akun twitter pribadinya yang membahas mengenai penista agama. Dhani menulis

"Siapa saja yang dukung Penista Agama adalah Bajingan yang perlu diludahi muka nya - ADP,"

Jack juga mengungkapkan selain sostingan tersebut masih ada postingan lain yang menurutnya juga menyudutkan Ahok.

"Ada beberapa yang saya baca 'di Indonesia ada teroris cius ko ahok ga di bom, kemudian ada juga ko penista jadi gubernur," tutur Jack saat menirukan komentar.

Selain Jack ada dua orang saksi lainnya yang diahadirkan dalam persidangan yakni Danick Danoko, dan Natalia. Sidang sendiri berjalan molor setelah dijadwalkan pada 13.00 WIB namun baru dimulai sekira pukul 17.00 WIB.

Kasus ini bermula ketika Dhani menuliskan tweet pada akun Twitter pribadinya yang membahas mengenai penista agama. Sidang Ahmad Dhani

"Siapa saja yang dukung Penista Agama adalah Bajingan yang perlu diludahi muka nya - ADP," tulis Ahmad Dhani.

Oleh karena itu, Ahmad Dhani dilaporkan Jack Boyd Lapian dengan pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45 ayat 2 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE. Ia pun terancam 6 tahun penjara dan denda Rp1 miliar.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini