Sedihnya, dalam surat keterangan kebangkrutan tersebut perusahaan yang bermarkas di Nashville ini berusaha mencari jalan keluar dari utang. Salah satu caranya adalah dengan menyingkirkan beberapa bisnis sampingan mereka dan berkonsentrasi pada pejualan alat musik.
"Selama 12 bulan terakhir, kami telah membuat langkah besar melalui restrukturisasi operasional. Kami telah menjual merek sampingan, meningkatkan pendapatan, dan mengurangi permintaan modal kerja," kata CEO Gibson Henry Juszkiewicz, seperti dikutip dari situs Rolling Stone, Rabu (2/5/2018).
Salah satu contohnya adalah divisi bisnis audio and home entertaiment yang berasal dari pembelian saham Philips pada 2014. Gibson membeli perusahaan tersebut senilai USD135 juta atau sekira Rp1,8 triliun.
Baca juga: Berkat Film Coco, Penjualan Gitar di Meksiko Melambung Drastis