JAKARTA – Fakta menarik dan daya tarik film ini adalah talent multi-etnis yang ikut ambil bagian. Pemeran film termasuk aktris Prancis (Juliette Binoche) sebagai dokter yang membuat the Major hidup kembali, aktor Denmark (Pilou Asbaek) sebagai mitra kerja the Major, dan seorang lelaki Jepang ('Beat' Takeshi Kitano) sebagai komandan perempuan bionik itu.
Pemilihan Scarlett Johansson sebagai the Major tentu saja kontroversial, karena sosoknya berubah dari yang sebelumnya Asia menjadi Kaukasia. Namun, dengan konteks masyarakat yang sangat beragam yang dihadirkan di film, pilihan itu terasa masuk akal.
Sosok-sosok lain juga terasa lebih hidup dibandingkan di film animenya. Meskipun begitu, sosok-sosok tersebut penggarapannya masih terlalu permukaan untuk menjadi sosok manusia.
Mereka seperti sosok yang berjalan, berbicara dengan kostum penuh gaya, sehingga membuat Ghost in the Shell lebih gampang untuk dikagumi daripada dicintai. Juga, andai saja film ini menambahkan humor dan kemanusiaan: lebih terasa adanya ghost in the shell, ruh dalam cangkang. Lepas dari itu, betapa menakjudkannya cangkang itu.
Jika Anda adalah orang yang terganggu dengan nuansa gelap dan pilu yang dihadirkan oleh film-film superhero DC, Anda akan kesal sekali dan mungkin akan marah menonton Ghost in the Shell. Pasalnya film ini kerap sangat gelap dan terasa kejam, membuat film Batman v Superman: Dawn of Justice hanya terasa seperti film lego.
(ade)
Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri