Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Kaleidoskop 2010

2010, Tetap Dewi Persik Juaranya

Elang Riki Yanuar , Jurnalis-Selasa, 28 Desember 2010 |11:30 WIB
2010, Tetap Dewi Persik Juaranya
Dewi Persik. (Foto: Koran SI)
A
A
A

AKHIR tahun 2009 film Suster Keramas yang diperankan bintang porno asal Jepang, Rin Sakuragi dirilis. Hasilnya, 820 ribu penonton berhasil dijaring. Sebuah pertanda baik bagi bintang porno lain untuk mengekspansi industri film Indonesia.

Keberhasilan Suster Keramas tak lepas dari kontroversi yang dihasilkannya. Saat itu, fenomena mendatangkan bintang porno ke Indonesia sedang ramai diperbincangkan publik. Adalah Ody Mulya Hidayat, produser Maxima Pictures yang mencetuskan ide mendatangkan super star film porno dari Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi.

Sayang, rencana mendatangkan Miyabi keburu bocor ke media sehingga membuat Ody dan Maxima menjadi buruan nomor satu 'poliisi moral', Front Pembela Islam (FPI). Alhasil, niat Miyabi menjalani syuting film Menculik Miyabi di Indonesia batal dilakukan, karena desakan berbagai kalangan, termasuk FPI.

Ody tak kehilangan akal. Sambil menunggu ketegangan mereda, secara diam-diam Ody memproduksi film Suster Keramas di kawasan Puncak, Bogor. Saat itu banyak yang menganggap, tak ada Miyabi, Rin Sakuragi pun jadi.

Lepas dari Rin Sakuragi, Februari 2010 Maxima kembali menggandeng bintang porno Jepang lainnya, Erika Kirihara di film Arisan Brondong. Meski bukan sebagai bintang utama, kehadiran Erika yang memakai bikini harus diakui menjadi nilai jual tersendiri di film ini.

Bicara tentang mendatangkan bintang film porno ke Indonesia, setidaknya ada dua nama rumah produksi yang bersaing bermain dalam pasar film esek-esek, yaitu Maxima Pictures dan K2K Production. Bahkan, Ody Mulya pernah secara terang-terangan menyerang langkah KK Dheeraj selaku produser K2K Production yang dianggap meniru dirinya.

Ody menilai, KK Dheraj tidak kreatif ketika membawa bintang porno asal Jepang lainnya, Leah Yuzuki di film Rayuan Arwah Penasaran.

Sebagai pelopor, Ody tentu ingin selangkah lebih maju dari pesaingnya. Ody akhirnya memenuhi janji dengan merilis film Menculik Miyabi pada bulan Mei 2010. Ody sepertinya belajar dari pengalaman sebelumnya, ketika gembar-gembor kedatangan Miyabi berujung pada batalnya produksi film Menculik Miyabi.

Kali ini, Ody memilih langkah diam-diam dan selektif memberikan keterangan pada wartawan. Jauh dari kontroversi dan pemberitaan, toh lewat film Menculik Miyabi, Ody tetap meraih keuntungan dengan capaian 500 ribu penonton.

Langkah menjauh dari publikasi ini sepertinya membuat Ody ketagihan. Ody diam-diam membawa kembali Miyabi dalam produksi film kedua. Kedatangan Miyabi sempat bocor ke media, namun Ody mati-matian membantah kabar itu. Padahal, saat itu foto-foto Miyabi di Indonesia beredar di dunia maya dan Miyabi diketahui menjalani syuting di kawasan Sentul, Bogor. Namun, Ody tetap berkelit.

Terkadang, penciuman wartawan tak pernah meleset. Benar saja, beberapa hari menjelang dirilisnya film kedua Miyabi, Ody baru terbuka kepada wartawan. Dugaan media Miyabi syuting film di Indonesia terjawab dengan kehadiran Miyabi di film Hantu Tanah Kusir. Untuk menghindari kontroversi, Miyabi memakai nama Pauleen di film yang dirilis November 2010 itu.

Merasa jauh tertinggal, KK Dheeraj menyiapkan strategi baru. Tak tanggung-tanggung, KK Dheeraj mendatangkan bintang porno asal Amerika yang jauh lebih mendunia, Tera Patrick. Hasilnya cukup baik, lewat film Rintihan Kuntilanak Perawan, Tera mampu menyihir lebih dari 400 ribu penonton.

Ada beberapa catatan yang menarik dari fenomena kedatangan bintang porno di film Indonesia. Pertama, dari segi kualitas film. Film-film horor yang menghadirkan bintang porno bisa dibilang berkualitas rendah. Jangan berharap kita akan disuguhkan kualitas sinematografi dan jalan cerita yang baik. Termasuk juga soal kualitas akting sang bintang porno yang jauh dari kata mengagumkan. Karena yang ada hanya sensualitas, sensualitas, dan sensualitas.

Kedua adalah tentang raihan jumlah penonton. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, film horor berbau seks memang masih diminati masyarakat Indonesia. Tengok saja capaian penonton dari film-film yang diperankan bintang porno. Rata-rata penonton film horor seks yang diperankan bintang porno berkisar antara 400 ribu hingga 800 ribu penonton.

Jangan dulu kita bandingkan dengan penonton film Laskar Pelangi yang mencapai 4,5 juta penonton. Tapi kesimpulan yang bisa diambil adalah, kehadiran bintang porno di film horor seks cukup berhasil menjaring penonton. Tak heran jika produser ketagihan bersaing mendatangkan bintang porno.

Ketiga adalah cara publikasi yang kadang menghalalkan segala cara untuk mendongkrak film. Kita tentu masih ingat ketika adegan mandi Rahma Azhari beredar luas di internet. Usut punya usut, hal itu hanyalah upaya mendongkrak popularitas Rayuan Arwah Penasaran yang dibintangi Rahma dan bintang porno asal Jepang, Leah Yuzuki.

Pola promosi antara Ody Mulya dan KK Dheeraj sebenarnya hampir memiliki kesamaan. Ody pernah mati-matian membantah kabar kedatangan Miyabi lantaran takut menuai kontroversi. Barulah setelah film resmi dirilis, Ody membenarkan keterlibatan Miyabi di filmnya, namun tetap tak mengakui bahwa dirinya tak pernah berhasil mengecoh ketajaman penciuman wartawan.

Hal yang sama juga dilakukan KK Dheeraj. Ketika informasi kedatangan Tera Patrick bocor ke media, KK Dheeraj membantah kabar mengajak Tera bermain di filmnya. Namun apa yang terjadi, sehari sebelum film Rintihan Kuntilanak Perawan diluncurkan, dengan bangga KK Dheeraj mempromosikan film itu tanpa pernah ingat bantahan yang diucapkannya sendiri.

Ody dan KK Dheeraj pasti tahu betul, jika mereka berkoar-koar jauh sebelum film dirilis akan menimbulkan kontroversi dan mengancam bisnis mereka. Itulah mengapa mereka baru gencar-gencaran berpromosi, setelah film mulai tayang di bioskop. Karena jika sudah tayang di bioskop, kecil kemungkinan film ditarik dari peredaran dengan dalih sudah lulus sensor di Lembaga Sensor Film (LSF).

Lalu, apakah dengan mengimpor bintang porno secara otomatis mendongkrak peraihan jumlah penonton? Jawabannya adalah belum tentu.

Jika kita bandingkan dengan seluruh film yang dirilis tahun 2010, Sang Pencerah berada di posisi puncak dengan raihan hampir 1,5 juta penonton yang diikuti film Darah Garuda, 18+, Tiran, Rumah Dara, Satu Jam Saja, Akibat Pergaulan Bebas, dan Alangkah Lucunya Negeri Ini di bawahnya. Film Sang Pencerah menjadi satu-satunya film yang menembus angka satu juta penonton di tahun 2010.

Yang menarik adalah jika kita bandingkan film horor seks yang dibintangi bintang porno luar negeri dengan bintang film Indonesia. Sejarah mencatat, belum pernah ada film yang dibintangi artis porno luar negeri melewati angka satu juta penonton. Karena di pasar film berjenis horor seks, akting Dewi Persik di film Tali Pocong Perawan belum tergoyahkan.

Lewat film yang dirilis tahun 2008 itu, Dewi Persik meraih 1,5 juta penonton dan diikuti akting Tamara Blezynsky dalam film Air Terjun Pengantin yang meraup 1,4 juta penonton di tahun 2009.

Ditengah gempuran bintang porno Miyabi, Rin Sakuragi hingga Tera Patrick, Dewi Persik boleh berbangga hati mampu mengalahkan bintang porno papan atas dalam menyihir penonton.

Untuk tahun 2010 ini, pemilik goyang gergaji itu mengeluarkan dua film yang berbau seks di film Tiran (Mati di Ranjang) dan Lihat Boleh Pegang Jangan. Hebatnya, dua film itu menembus angka 400 ribu penonton.

Bisa jadi, janda Saipul Jamil itu mungkin akan berkata pada Miyabi atau Tera Patrick, “kalian boleh main film di Indonesia, tapi tetap Dewi Persik juaranya”.

(nov)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita celebrity lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement