Hal yang paling menyentuh Zaskia adalah perjuangan para relawan yang harus patungan menggunakan uang pribadi demi menjalankan upaya pemadaman.
Menurut cerita yang diterimanya, warga mengumpulkan uang dengan nominal beragam, mulai dari Rp10 ribu, Rp15 ribu, hingga Rp20 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli bensin agar mesin yang membantu proses pemadaman bisa terus beroperasi.
“Jadi di sini ada masyarakat yang sebagai relawan mandiri, mereka ikut madamin setiap hari. Dan tahu nggak, buat beli bensin, buat ngidupin mesin ya, mereka itu patungan dari uang mereka masing-masing: Rp10.000, kadang Rp15.000, Rp20.000,” kata Zaskia.
Ia menyebut para relawan menjalankan upaya pemadaman secara mandiri karena mereka belum mendapatkan dukungan yang memadai. Kondisi itu membuat warga harus berjuang dengan keterbatasan, termasuk dalam hal perlengkapan keselamatan.
“Jadi emang karena nggak ada support, ya mereka bener-bener mandiri tanpa APD lengkap. Ya karena mereka bilang harus ngejaga dari sekitar,” lanjutnya.