SEOUL - Film The Assassin(s) sukses membukukan 2,04 juta penonton, setelah tayang selama 11 hari di bioskop Korea Selatan. Data tersebut dirilis oleh Lembaga Perfilman Korea, pada 3 Oktober silam.
Sebelumnya lembaga tersebut mengumumkan, film baru Yoo Hae Jin dan Lee Min Ho tersebut berhasil mencatatkan 1,05 juta penonton, pada 26 September 2026. Artinya, film itu hanya membutuhkan 4 hari untuk bisa meraih 1 juta penonton.
Menariknya, prestasi tersebut justru diraih The Assassin(s) di tengah derasnya kecaman publik yang menuding film produksi Hive Media Corp itu melakukan distorsi sejarah dan menyebarkan propaganda politik.
Kisah film The Assassin(s) diketahui mengambil latar peristiwa sejarah seputar percobaan pembunuhan Presiden Park Chung Hee di acara peringatan kemerdekaan Korea Selatan ke-26 di Seoul, pada 15 Agustus 1974.
Saat sedang berpidato, Mun Se Gwang yang merupakan simpatisan pro-Korea Utara melepaskan tembakan ke arah Park Chung Hee. Namun tembakannya meleset hingga menewaskan istri sang presiden, Yuk Young Soo.
Korea JoongAng Daily dalam pemberitaannya mengatakan, film The Assassin(s) menuai gelombang protes karena ceritanya dianggap fokus mencari ‘dalang’ di balik percobaan pembunuhan Presiden Park Chung Hee.
Kritikus film menilai, keputusan sutradara Hur Jin Hoo memasukkan cerita konspirasi yang melibatkan pihak berkuasa, termasuk kemungkinan keterlibatan KCIA (badan intelijen Korea Selatan) atau orang-orang di sekitar Park Chung Hee, berpotensi memengaruhi opini publik.
Atas tuduhan distorsi sejarah itu, Hive Media Corp selaku rumah produksi film The Assassin(s) merilis pernyataan resmi, pada 28 September 2026. Dalam keterangannya, rumah produksi itu menegaskan, The Assassin(s) merupakan ‘film fiksi’ yang mengambil peristiwa sejarah pada 1974.
Karena film tersebut menampilkan peristiwa dan tokoh nyata, maka tim produksi dipastikan telah melakukan riset mendalam terhadap catatan publik, materi, buku, film dokumenter, dan sumber sejarah terhadap peristiwa percobaan pembunuhan sang presiden.
“Sehingga, film ini tidak dibuat tidak untuk membuat kesimpulan tertentu atau mendistorsi fakta atau peristiwa sejarah yang ada,” ujar Hive Media Corp dikutip dari MyDaily, pada Senin (5/10/2026).
Dalam lanjutan keterangannya, perusahaan itu menuliskan, “Pun kami tidak mengarahkan satu karakter pun dalam film itu sebagai dalang di balik insiden tersebut. Hipotesis dan latar dramatis yang disajikan dalam film tersebut tidak digambarkan sebagai fakta sejarah.”*
(SIS)