“Edisi ke-10 ini kami rancang supaya pengunjung punya alasan bertahan dua hari penuh. Ada Mackenyu di panggung utama, ada HaneAme dan Lily Universe untuk teman-teman cosplay, ada komikus dari Hong Kong dan Malaysia di area kreator. Semuanya dalam satu atap dan itu yang membuat ICC terasa seperti reuni tahunan komunitas pop culture,” kata Lulu Anwar, Project Manager Indonesia Comic Con.
Kompetisi cosplay berjalan lewat dua ajang. RAYA Championship of Cosplay merupakan kompetisi orisinal milik Indonesia Comic Con, sementara Indonesia Cosplay Grand Prix berstatus babak penyisihan nasional untuk WCS Indonesia, jalur resmi menuju World Cosplay Summit di Nagoya, Jepang. Melalui keduanya, ICC 2026 memperkuat posisi Indonesia dalam komunitas cosplay global.
Di sisi komik, ICC 2026 menghadirkan komikus Indonesia berdampingan dengan kreator internasional. Bekerja sama dengan Hong Kong Economic and Trade Office in Jakarta, edisi kali ini menampilkan partisipasi komikus dari Hong Kong dan Malaysia, membuka ruang pertukaran kreatif sekaligus peluang bagi kreator dan IP lokal untuk terhubung dengan audiens internasional.
Chairman AKSI (Asosiasi Komik Indonesia) Sunny Gho menyampaikan, “Sepuluh tahun terakhir mengubah posisi komikus Indonesia. Hari ini banyak dari kita bekerja untuk penerbit di Amerika, Jepang, dan Eropa.”
“Yang kita butuhkan sekarang adalah ruang bertemu yang konsisten, tempat kreator, penerbit, dan pembaca berada di lokasi yang sama, supaya peluang itu tidak berhenti di percakapan,” ucapnya.
Perspektif serupa datang dari Ariela Kristantina, komikus asal Indonesia yang karyanya diterbitkan sejumlah penerbit internasional, termasuk Marvel dan Dark Horse Comics.
Menurutnya, bekerja untuk penerbit internasional mengajarkannya bahwa yang dicari bukan kreator yang meniru gaya mereka, tapi kreator yang punya suara sendiri. “Di acara seperti ini kita ketemu langsung pembaca dan sesama komikus, dan tahu karya kita sampai ke siapa, itu yang susah didapat kalau cuma bekerja dari balik meja gambar,” tuturnya.