“USU memandang kebangsaan bukan slogan, tetapi practice of nationhood—dilakukan melalui karya, kreativitas, inovasi, dan keberanian meng-explore. Festival ini bukti bahwa kampus bukan menunggu trend, tetapi menciptakan landscape,” kata Prof. Muryanto.
Once Mekel menyebut bahwa musik adalah memori kolektif yang membentuk rasa kita sebagai bangsa.
“Musik adalah identitas emosional Indonesia, ia membentuk rasa kita sebagai bangsa,” kata Once.
Kaka Slank menambahkan bahwa kekuatan Indonesia tidak berasal dari keseragaman, tetapi dari solidaritas bersama.
“Indonesia kuat bukan karena kita sama, tapi karena kita saling jaga,” katanya.
Sedangkan Alffy Rev menekankan bahwa sound design bisa menjadi medium ideologi dan frekuensi nada dapat menjadi strategi kultural untuk membangkitkan kebanggaan nasional generasi digital.
“Sound design juga adalah statecraft. Audio bisa mengubah sense of pride anak bangsa,” kata Alffy.
(kha)