JAKARTA - Wafatnya Mbah Maridjan meninggalkan kenangan bagi Peggy Melati Sukma. Dari Mbah Maridjan, Peggy mendapatkan nama baru, Sekar.
“Satu yang enggak akan saya lupa dari Mbah. Saya dapat nama dari Mbah, dia kasih nama saya. Dia bilang jenengmu Sekar. Dan mulai itu dia panggil saya Sekar. Jadi saya harus selalu ingat nama saya Sekar,” papar Peggy ditemui di daerah Pangeran Jayakarta, Kota, Jakarta, Rabu (27/10/2010).
Satu lagi hal yang diingat Peggy dari Mbah Maridjan adalah juru kunci Gunung Merapi itu menilai Peggy merupakan perempuan yang kuat. “Jadi jangan aneh kalau banyak yang enggak tahan sama saya,” kelakarnya sambil menatap suami yang menemaninya.
Peggy menilai sikap Mbah Maridjan yang tak ingin dievakuasi adalah karena tempat tinggal adalah hal yang paling berharga baginya. Jika ada ancaman Merapi dan mereka belum meyakini akan terjadi, lalu diminta untuk meninggalkan, itu bukanlah hal mudah.
“Satu hal itu yang seringkali kita lupa,” ujarnya.
Peggy tak pernah lupa, rombongan dari Gunung Merapi hadir di pernikahannya. Mereka naik bis, tapi Mbah Maridjan tidak bisa datang dan hanya mendoakannya lewat telepon.
"Buat kami sebuah kehilangan yang cukup besar, kita sempat bersihin toilet Mbah Pujo yang rumahnya di bawah mbah Maridjan. Apapun yang bisa saya bantu untuk Merapi, saya pasti siap,” pungkasnya.
(nov)