Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Periskop

2010, Tema Film Indonesia Lebih Beragam

Novi Muharrami , Jurnalis-Rabu, 06 Januari 2010 |12:47 WIB
2010, Tema Film Indonesia Lebih Beragam
Hanung Bramantyo. (Foto: Yulianto/Koran SI)
A
A
A

Perkembangan film Indonesia selama tahun 2009 banyak dihiasi oleh film bergenre horor komedi. Namun tak sedikit film tersebut dibumbui adegan esek-esek yang membuat sebagian sineas mengkhawatirkan keruntuhan film Indonesia persis seperti di awal tahun 1990an.

Apakah kekhawatiran ini bakal menghantui perkembangan film Indonesia 2010 mendatang?

Menurut sutradara muda Hanung Bramantyo, tren film 2010 akan semakin beragam. Tetralogi Laskar Pelangi yang diadaptasi dari Novel Andrea Hirata akan berjalan beriringan dengan film horor yang juga memiliki pangsa pasar yang bagus.

“Karena begini saja, kita mau bikin tentang pendidikan, tentang seks, tentang horor, tentang apapun yang penting cerita dan kemasannya. Kalau kemasan dan ceritanya bagus itu sah-sah saja dan akan di apresiasikan oleh masyarakat,” papar Hanung ditemui di PPHUI, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Diakui Hanung jika sebelumnya penonton lebih banyak diberikan apa saja, sehingga penonton tidak mengerti gambar. “Makanya bikin film asal-asalan saja,” keluhnya.

Sementara, saat ini muncul teknologi canggih Hollywood yang menawarkan film-film dengan kualitas gambar yang bagus dan bahkan ada yang tiga dimensi. Untuk memberikan tontonan yang berkualitas, kata Hanung, sineas Indonesia sudah harus mulai menapaki arah teknologi tinggi.

“Kita harus memiliki orientasi ke arah sana, kita tidak bisa hanya mengikuti tren saja, tetapi harus lebih mengeksplorasi gagasan baru,” papar suami Zaskia Adya Mecca ini.

Ubah Paradigma Produser

Banyak sineas muda yang memiliki kreativitas baru dalam penggarapan film. Tak terkecuali, seperti film Idetitas yang beranjak dari produksi Indie Film.

Identitas membuktikan jika tidak melulu film yang diproduksi rumah produksi besar bisa mendapat penghargaan layak. Oleh karenanya, Hanung berpendapat jika secara perlahan paradigma produser bisa berubah.

Selama ini, produser membebani kepada kemasan film tanpa promosi. Padahal produser berperan besar dalam mempromosikan sebuah film agar sejak awal mendapat perhatian pemerintah.

“Justru kalau ada kreativitas yang mengikuti penonton dan tren, tidak ada inovasi di dalamnya. Itu membuat penonton tidak akan menonton filmnya. Kita harus menggali kreativitas, jangan hanya mengikuti tren,” jelas sutradara Ayat-Ayat Cinta ini.

Meskipun berbagai ajang festival film banyak digelar untuk memberikan apresiasi terhadap film Indonesia, namun menurut Hanung tetap saja secara komersil diserahkan kepada penonton.

“Sekarang itu yang ada film bagus sama film jelek, karena kalau ada film idealis atau film komersil, Laskar Pelangi termasuk film apa,” pungkasnya.

Bagaimana pun juga, perkembangan film Indonesia juga tak lepas dari tanggapan pasar terhadap kemasan dan promosi film sendiri. Meski dijejali film Hollywood, namun jika Indonesia mampu menghadirkan film bertema baik dan berteknologi canggih, tak bisa dipungkiri Indonesia bakal seperti India yang film lokalnya tetap merajai bioskop negeri sendiri.

(nov)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita celebrity lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement