"Olah rasa itu seperti membersihkan cermin. Nafsu tidak dibunuh, tapi diemong. Yang dilebur cukup keakuan," jelasnya.
Tidak Menawarkan Spiritual Instan
Di tengah berkembangnya konten spiritual di media sosial, Latif mengaku memiliki batasan tersendiri dalam menyampaikan ajarannya. Ia tidak menjual doa maupun menawarkan layanan spiritual instan, seperti kuncian dan buka aura. Kegiatannya lebih berfokus pada pendampingan belajar semedi dan olah rasa.
"Daya itu bukan milik guru. Semua dipinjami Gusti. Kalau merasa punya kuasa sendiri, itu sudah sombong," tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa praktik spiritual tidak boleh menggantikan penanganan medis. Untuk persoalan kesehatan, Latif meminta muridnya tetap berkonsultasi dan berobat kepada tenaga medis, sedangkan laku batin ditempatkan sebagai pendamping ikhtiar.