Thulus membeberkan, bentuk intimidasi yang dialami korban sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Mulai dari pembongkaran data identitas pribadi ke ruang publik hingga ancaman verbal bernada merendahkan melalui pesan langsung (direct message).
"Terornya yang pertama me-spill tempat kerjanya, membuka tempat kerja, identitas tempat tinggalnya, ya. Kemudian ancaman langsung ke direct message, penghinaan begitu mengatakan sebagai perempuan tidak benar, dan lain-lain. Kemarin bukti-bukti sudah kami lampirkan dan kami sudah serahkan ke LPSK. Artinya ancaman itu nyata dialami oleh klien kami," jelas Thulus.
Tak hanya akun anonim, Thulus menduga ada campur tangan oknum influencer di media sosial yang turut memperkeruh suasana dengan sengaja memancing warganet untuk menelusuri keberadaan korban.
"Ada akun-akun random yang anonim begitu ya. Tapi ada juga dugaan akun-akun bahkan bisa kita kategorikan influencer, ya, yang mengarahkan masyarakat untuk mencari identitas pribadinya. Memang tidak secara langsung menyebutkan, tapi dia menggiring seolah-olah misalnya kosnya di sini, dibegini, begini. Ini yang menurut kami jauh lebih berbahaya," tuturnya.
Tekanan publik tersebut berdampak nyata terhadap kesehatan mental ANW. Thulus menuturkan kliennya baru saja rampung menjalani pemeriksaan psikologis intensif selama empat jam di LPSK demi memulihkan mentalnya.