Selain keluarga inti, muncul juga karakter-karakter yang mewarnai keseharian Willa seperti Ira Wibowo sebagai Nyonya Chang, Melissa Karim sebagai Cik Mien, serta teman-teman bermain Willa, yaitu Freya Mikhayla (Farida), Azamy Syauqi (Dul), dan Arsenio Rafisqy (Bud). Kehadiran Mbok Tun sebagai Mbok serta Fanny Fadillah sebagai Bapak Farida turut melengkapi keunikan warga di lingkungan tempat tinggal Willa.
Salah satu aspek yang menonjol dalam film ini adalah visualisasi Surabaya pada era 1960-an. Tim produksi membangun set bangunan, pakaian, hingga kendaraan yang mewakili zaman tersebut agar penonton bisa merasakan suasana masa lalu yang autentik.
Detail-detail kecil di dalam gang tempat Willa tinggal diperhatikan dengan saksama untuk membangun atmosfer cerita yang kuat. Nuansa tahun enam puluhan ini bukan sekadar latar belakang, melainkan bagian penting yang membuat penonton bisa memahami konteks sosial dan cara hidup masyarakat pada masa itu.
Na Willa tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang budaya yang berbeda, di mana ibunya berasal dari Nusa Tenggara Timur dan ayahnya merupakan keturunan Tionghoa. Film ini menggambarkan bagaimana perbedaan budaya tersebut menyatu dalam pola asuh dan percakapan sehari-hari di rumah secara alami.
Tidak ada kesan menggurui dalam menyampaikan pesan mengenai toleransi, karena semua perbedaan itu ditampilkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang lumrah. Hal ini memberikan gambaran mengenai cara menghargai keberagaman yang dimulai dari dalam rumah.