Ia menuturkan, lagu tersebut dibuat setelah dirinya melakukan sambungan telepon internasional yang mahal, notasi lagu tersebut muncul seketika di kepalanya. "Zaman dulu kan kalau nelpon ke luar negeri mahal, cuma bisa sebentar. Habis nelpon, kangen banget, terus muncul notasi-notasi itu. Langsung dinyanyiin, diingat, terus ditulis," tambah dia.
Arief menceritakan bahwa sang kekasih saat itu merasa sangat tersanjung saat mengetahui lagu tersebut diciptakan khusus untuknya. “Kalau istilahnya zaman dulu klepek-klepek ya standar para remaja pada saat itu umumnya lagi mana sih?,” tutur Arief.
Setelah lulus kuliah, Arief kembali ke Jakarta dan membawa materi lagu tersebut. Meski sempat mengalami pergantian vokalis di awal pembentukan band, lagu "I Will Fly" akhirnya menemukan suaranya melalui Imela dan meledak di pasaran, hingga menjadi salah satu lagu bertema cinta paling ikonik di Indonesia.
“Habis itu baru pindah ke Jakarta. Setelah kita lulus ya, aku lulus balik sebelum aku sama Robin sama Poltak. Terus vokalisnya keluar karena mau berkarir. Ketemu sama Imel kasih tahu deh lagunya yang viral,” beber dia.
Kini, setiap kali "I Will Fly" diputar, pendengar tidak hanya menikmati musik yang ringan, tetapi juga sebuah monumen rasa rindu seorang perantau untuk kekasih hatinya di Jakarta.
(kha)