JAKARTA - Seto Mulyadi alias Kak Seto terseret dalam polemik buku Broken String yang menceritakan masa lalu kelam Aurelie Moeremans sebagai korban child grooming.
Warganet kemudian menguliti satu per satu 'karakter' yang ada dalam buku itu. Meski disamarkan, namun salah satu karakter yang disoroti dalam buku itu adalah Komnas Perlindungan Anak.
Publik kemudian mempertanyakan peran lembaga tersebut dalam menangani kasus sang aktris. Pada 2010, Sri Sunarti, ibu kandung Aurelie ternyata sempat melaporkan kejadian itu ke Komnas PA pimpinan Kak Seto.
Sayang, saat itu tak ada tindakan apapun dari Kak Seto. Jalan buntu meminta perlindungan akhirnya memaksa Sri membuka masalah yang telah ditutup rapat keluarganya dari publik itu ke media.
Hal itu membuat warganet ramai-ramai meluapkan kekecewaan mereka kepada Kak Seto. Terkait hal tersebut, pakar pemerhati anak tersebut kemudian memberikan klarifikasinya lewat Insta Story.
"Pada masanya, kami telah berupaya semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab kami saat itu," jelasnya.
Dia kemudian meminta semua pihak untuk menyikapi pemberitaan dengan kepala dingin, tanpa memelintir fakta ke arah pemahaman yang keliru. Mengingat saat itu pihaknya sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan kasus tersebut.
Kak Seto kemudian menegaskan, agar mencuatnya kembali kasus tersebut agar tidak dijadikan ruang untuk saling menuduh, memfitnah, menyerang dan mengubah fakta yang sebenarnya.
Pria 74 tahun tersebut meminta seluruh pihak bersikap lebih bijak dan adil. "Kami berharap semua pihak yang pernah terlibat dapat terus pulih, berdamai dengan masa lalu, dan menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan," tulisnya.
Klarifikasi Kak Seto tersebut kemudian menuai reaksi keras warganet di platform X. Mereka menilai, sebagai pemerhati anak Kak Seto tak berpihak kepada korban yang saat itu masih di bawah umur.
"Segampang itu dia bilang semua pihak harus 'berdamai' padahal korban memendam trauma mendalam selama belasan tahun. Hapus saja kata 'sahabat anak' lo itu deh," kata @aik****83.
Akun @eun****_ menambahkan, "Ini sih bukan pernyataan penyelesaian tapi lebih ke 'pernyataan peredam situasi'. Gunanya untuk menjaga citra lembaga, bukan untuk menjawa rasa sakit dan kecewa korban."
"Duh, enggak ada empatinya banget sama korban. Malah dibandingkan dengan persoalan lain, seolah-olah child grooming ini tidak ada artinya di mata dia," ungkap @nia***e.
(SIS)