Dalam praktiknya, pelet alami tidak membutuhkan jimat, susuk, atau ritual ekstrem. Media yang digunakan justru sangat manusiawi, seperti tatapan mata, sentuhan, dan ucapan yang mengandung energi positif.
Namun, Ki Reman juga menegaskan bahwa jika seseorang memiliki gangguan non-medis atau aura yang tertutup, proses pembersihan tetap diperlukan agar energi alaminya bisa kembali aktif dan seimbang.
Di akhir pembahasan, Ki Reman menekankan pentingnya niat dan etika dalam menggunakan ilmu pelet. Ia membedakan antara pelet putih, abu-abu, dan hitam berdasarkan tujuan penggunaannya.
Pelet yang bertujuan merusak, memaksa, atau menghancurkan kehidupan orang lain dapat menjadi bumerang. Sementara pelet alami yang digunakan untuk kebaikan, kepercayaan diri, dan keharmonisan justru memperkuat energi positif dalam diri seseorang.
Saksikan kisah lengkapnya, hanya di @robbypurbaofficial.**
(SIS)