“Saya menulis naskah J.J Jian Juhro ketika berada di Iowa, Amerika Serikat untuk memenuhi undangan bagi para penulis Indonesia selama enam bulan. Sisanya saya tulis di Jakarta dan saya persembahkan untuk Ratna dan Rangga. Pentas ini disutradarai oleh Rangga Riantiarno. Mengapa Rangga, pengalamannya sangat cukup. Dia adalah sosok yang hadir pada era milenial, dia pasti tahu apa yang harus dikerjakan. Saya hanya sosok yang lahir sebelum era itu. Semoga pentas ini bisa mengilhami kita semua,” ujar Nano Riantiarno, penulis naskah.
Bicara soal sampah dan penguasa korup memang seolah tak ada habisnya di setiap era. Namun bagaimana dengan kejujuran? Seperti apa rasanya mempertahankan nilai kejujuran pada era di mana ketidakadilan dan ketidakjujuran bisa dengan mudahnya ditemui di sudut kota mana pun? Jawabannya, tentu tidak sesederhana itu. Sama halnya dengan, betapa tidak sederhananya mementaskan kembali lakon yang sudah dipentaskan puluhan tahun lalu di era sekarang.
“Lakon J.J dipentaskan pada September 1979 ketika saya berusia 6 bulan, tentu saja saya tidak melihat langsung seperti apa pertunjukan itu. Empat puluh tahun kemudian, naskah yang lama disunting oleh penulisnya sendiri. Membaca naskah baru yang sudah dipadatkan merupakan sebuah sensasi tersendiri. Saya merasa kisah yang disajikan dalam lakon ini tidak lekang oleh waktu. Kondisi kini tidak sama seperti dulu, tapi tetap ada hal-hal yang tidak berubah. Akan selalu ada orang-orang jujur dan orang-orang yang korup.," ujar Sutradara Rangga Riantiarno.