nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lewat Dangdut Koplo, Eny Sagita Ceritakan Kekaguman pada Sosok Gus Dur

Vania Ika Aldida, Jurnalis · Minggu 10 Maret 2019 08:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 09 205 2027720 lewat-dangdut-koplo-eny-sagita-ceritakan-kekaguman-pada-sosok-gus-dur-UKUOOvIKgU.jpg Eny Sagita (Foto: Instagram/@eny_sagitathementhul)

JAKARTA - Genre dangdut koplo memang tengah menjadi sebuah karya baru bagi musisi Indonesia yang cukup diminati para penggemar musik. Apalagi ditambah dengan lirik lagu berbahasa Jawa yang belakangan menjadi sukses usai kemunculan sosok Nella Kharisma hingga Via Vallen.

Baca Juga: Serba Hitam, So Ji Sub Disambut Fans saat Tiba di Jakarta

Lewat keduanya, dangdut tak lagi diidentikkan dengan musik yang bisa dibawakan dengan gaya yang seronok, baik dalam goyangan ataupun pakaian. Keduanya terbilang cukup sopan dan berpenampilan sangat eye catching, meski jauh dari kesan memperlihatkan kemolekan tubuh.

Saat ini, dangdut koplo tak hanya sekadar membicarakan tentang cinta dalam setiap lagu-lagu dengan lirik berbahasa Jawa tersebut. Sesekali dangdut koplo pun hadir dan membahas cerita berbeda, salah satunya dengan membahas soal seorang tokoh politik.

Pedangdut asal Nganjuk, Jawa Timur, Eni Setyaningsih atau Eny Sagita, diketahui menjadi penyanyi yang baru-baru ini merilis tembang tentang kekagumannya terhadap sosok Gus Dur. Dalam lagu yang diciptakan oleh Dhalang Poer tersebut, wanita 34 tahun ini nampak mengungkapkan apa saja yang sempat dilakukan masyarakat kepada idolanya tersebut saat beliau masih hidup dan menjabat sebagai presiden.

Tematik Lagu Jawa

Lagu yang dirilis pada 3 Maret 2019 kemarin di akun YouTube Channel Eny's Production tersebut diketahui telah ditonton lebih 140 ribu kali. Bahkan tak sedikit masyarakat yang membenarkan isi dari lagu yang dibawakan Eny Sagita tersebut.

Baca Juga: Deretan Pose Kocak Chika Jessica saat Berlibur ke Jepang

Berikut lirik lagu milik Eny Sagita berjudul Gus Dur, dalam bahasa Indonesia:

Tidak ada tiga tahun, engkau jadi Presiden, dipaksa turun parlemen.

Katanya kasus itu, katanya kasus ini, tapi tidak ada nyatanya.

Jadi lawan politik, orde baru

Jadi korban ambisi, reformasi palsu

Walaupun tuna netra, tapi mengerti hatimu, mana kucing mana anjing

LSM atau Partai, Ormas ataupun RT, yang penting tingkah lakunya.

Teringat nasehatmu, yang sederhana

Agama mengayomi alam semesta

Reff:

Ketika engkau pergi banyak yang merasa kehilangan

Pendekar rakyat yang sudah rela jadi korban

Dihadang sana sini karena membela rakyatnya

Yang dianggap tidak penting dan selalu disingkirkan

(LID)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini