JAKARTA - Mantan penyanyi cilik Tina Toon menjadi salah satu artis muda yang akan maju sebagai calon legislatif pada 2019 mendatang. Kini dirinya tengah menunggu kabar dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) untuk bisa mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif.
Sebelum akhirnya mantap mendaftarkan diri, wanita yang terkenal dengan lagu Bolo Bolo ini pun tengah mempersiapkan diri dengan beberapa pengetahuan. Mulai dari mengikuti pendidikan di partai hingga bertanya kepada senior.
Sementara itu, apa penyebab putri pasangan Aan Hermanto dan Megawati ini memutuskan untuk berkarier di dunia politik?
(Baca juga: Kalau Menang Nyaleg, Tina Toon Siap Tinggalkan Dunia Hiburan)

"Jadi sebetulnya kalau aku di dunia politik itu memang sudah passion, panggilan hati. Ibaratnya dari dulu dari kecil aku sudah berkarier sebagai penyanyi, artis terus juga sekolah ambil S-1 komputer, S-2 hukum, dan memang dari dulu tujuannya memang aku sudah cita-cita panjangnya di politik. Tapi aku enggak nyangka secepat ini. Karena kalau sekarang aku bilang karena ya sudah ini waktunya anak muda, millenials banyak banget," ungkap Tina Toon yang ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin 30 Juli 2018.
(Baca juga: Maju Nyaleg 2019, Tina Toon Sempat Tak Direstui Keluarga)
"Mudah-mudahan juga dengan kehadiran aku di sini bisa jadi motivasi dan inspirasi anak muda berpartisipasi di politik dan selain passion juga balik lagi dengan keadaan sekarang lah gitu, di Indonesia masih banyak yang kekurangan terus juga masih banyak yang aspirasinya tidak tersalurkan lah, di sini kita hadir untuk menyalurkan aspirasi masyarakat," tambahnya.

Bintang film Cinta Dalam Kardus itu mengungkap bahwa masuk ke dunia politik merupakan panggilan hati. Bahkan, terbiasa hidup enak dan serba berkecukupan, membuat wanita yang akan berulang tahun pada 20 Agustus mendatang ini merasa perlu untuk membuat masyarakat bisa memiliki kehidupan yang layak dan mendapatkan hak mereka.
"Sebetulnya kalau dorongan awal balik lagi ke panggilan hati ya, karena selama ini aku hidup bersyukur bisa berpendidikan cukup, bisa makan cukup, bisa pilih karier mau ke mana sedangkan banyak anak-anak di Indonesia masih belum bisa mendapatkan itu, perempuan masih belum bisa mendapatkan haknya. Ibaratnya kalau misalkan di legislatif itu kan ada legislasi, ada budgeting, anggaran, pengawasan ke mana saja nih," paparnya.
"Nah makanya kalau kita mau sistemnya seperti apa, kita mau membenahi atau ibaratnya aspirasi enggak sampai-sampai ya kita harus ada di sistem, secara kita harus berada di dalam situ," tandasnya. (sus)
(kem)