"Kalau India, ngomong sedikit banyak joget. Paling enak Korea, sedikit ngomong, lebih banyak tatap-tatapan," seloroh Denis.
Transisi dunia sulih suara dari dunia analog ke digital turut dirasakan oleh penyuka wisata kuliner itu. Sebelum sulih suara memanfaatkan teknologi, proses dubbing biasa dilakukan beberapa orang sekaligus dalam satu waktu.
Tak jarang anak kemarin sore harus berhadapan langsung dengan para dubber senior. Pada masa itu, proses dubbing dapat menguras emosi karena satu kesalahan kecil bisa membuat semua orang harus mengulang proses dari awal.
"Tapi itu jadi cambukan dan gemblengan. Teknologi yang minim membuat skill terasah," kata pria yang mendalami ilmu komunikasi massa di Universitas Prof Dr Moestopo.
Di sisi lain, ini membuat para penyulih suara menjadi lebih akrab satu sama lain karena sering bersua. Setelah era digital tiba, para penyulih suara bisa bekerja sendiri-sendiri. Tantangan pada masa ini adalah menyambungkan emosi antar karakter yang pada kenyataannya tidak bertatap muka di studio.