Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bisnis Musik Digital Berpotensi Tumbuh di Indonesia

Edi Hidayat , Jurnalis-Rabu, 05 Maret 2014 |14:43 WIB
Bisnis Musik Digital Berpotensi Tumbuh di Indonesia
Addie MS (Foto: Maria Cicilia Galuh/Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Masih hangat peluncuran album dua girl group terbesar asal Korea Selatan, SNSD dengan album Mr.Mr, dan 2NE1 dengan album CRUSH.

Agensi menggelontorkan semua lagu-lagunya di YouTube, sehingga bisa didengarkan secara gratis. Lho, apakah itu berarti pihak SM Entertainment (agensi yang menaungi SNSD), dan YG Entertainment (agensi yang menaungi 2NE1) mempersilahkan warga internet 'membajak' lagu dari artis mereka?

Tentu saja itu bagian dari promosi dengan menyesuaikan perkembangan teknologi digital yang semakin canggih. Mereka bahkan bisa meraih keuntungan berlipat-lipat dibandingkan promosi dengan cara konvensional. Agensi selanjutnya menjual lagu dengan suara kualitas tinggi melalui iTunes dan sebagainya. Mereka tak khawatir dengan pembajakan lagu.

Iklim bisnis musik di Korsel yang baik, termasuk perangkat hukumnya, membuat para pelaku industri di sana bisa hidup nyaman. Berbeda dengan Indonesia yang masih saja berkutat di pembajakan, sehingga masih jadi momok bagi musisi juga pelaku industri.

Bukan berarti pembajakan menjadikan industri di sini akan kiamat. Potensi bisnis musik digital di Indonesia justru belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal bisnis ini dapat menjadi solusi terbaik untuk menyiasati persoalan pembajakan fisik yang hingga kini tak kunjung usai.

Chika Maryana dari brand INSIDE mengatakan, potensi industri musik bisa dimaksimalkan penjualan karya melalui toko online, seperti iTunes, Google Music, Amazon, Rhapsody, Deezer, Spotify, Nokia Music, dan masih banyak lainnya.
 
''Sayangnya tren ini masih belum bisa dimaksimalkan para musisi, pelaku maupun penikmat industri musik di negeri kita,'' kata Chika seperti rilis yang diterima Okezone, Rabu (12/3/2014).
 
Chika sendiri merasa senang bisa membantu jualan karya-karya dari musisi yang berada di bawah naungannya, di antaranya ada Barry Likumahuwa, Afgan, Chery Belle, Andien, Dea Mirela, Abdul, Joeniar Arief, Cindy Bernadette, Naif, Addie MS and Twilite Orchestra, hingga dua karya musisi senior semacam Ebiet G Ade dan Fariz RM.

Wanita berwajah oriental ini melihat model penjualan secara digital ini setiap tahunnya terus memperlihatkan tren positif. Rujukan yang digunakannya adalah laporan yang dirilis International Federation of the Phonographic Industry (IFPI). IFPI adalah organisasi industri rekaman dunia yang memiliki 1.300 anggota di 66 negara.

(tre)

Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita celebrity lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement